Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, 22 November 2018

"Kaiwakai" Melatih Kemampuan Wicara dengan Native Speaker

Kaiwakai November 2018 PBJ UNNES
Ohayou..
Kali ini kita akan membahas salah satu kegiatan luar prodi alias tidak masuk didalam sks perkuliahan yaitu Kaiwakai.

Kaiwa sendiri adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti percakapan atau pembicaraan dalam bahasa Indonesia (sumber * kamuslengkap). Kaiwakai sendiri diadakan dalam rangka membantu para mahasiswa untuk berbicara dalam bahasa Jepang sekaligus mempraktekan hasil pengajaran di kelas secara langsung. Sebagai lawan bicara kami mengundang Japanese native speaker langsung dari Nihon Partners.

Dalam kesempatan ini terdapat 3 orang Nihon Partners yang hadir di acara kaiwakai, mereka sendiri di Jepang adalah mahasiswa tingkat 4 di Universitas masing2x. Ada yang berasal dari Aomori, Osaka dan Kanagawa. Dalam prakteknya, peserta dibagi kedalam 3 kelompok besar.

Topik dari kaiwakai kali ini adalah sistem pendidikan atau perkuliahan di Jepang, walaupun topiknya spesifik, namun dalam pelaksanaannya mengalir lancar, dari hal pendidikan di Jepang, musim di Jepang, kota asal para Nihon Partners, apa yang disuka di Indonesia dan di Jepang, dsb. Pada awalnya masih terkesan kaku, namun seiring waktu semuanya mencair dan percakapan mulai mengalir. Di akhir acara juga kita main sedikit game yang membuat suasana semakin akrab dan semua semakin ngeblend.



Tentu saja diakhiri sesi foto foto :). Nihon Partners pun mengapresiasi acara ini dengan baik, dan bersedia jika lain kali diadakan acara serupa..
Arigatou gozaimashita




Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang

Wednesday, 11 February 2015

BANGGA BERJAS KUNING

Dany Buyung Yudha Prasetya

Memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia


Brrr..dingin banget”, itulah kalimat pertama yang dikatakan teman-teman rombongan program Jenesys Indonesia ketika keluar dari bandara Narita. Disambut suhu udara yang mencapai 3 derajat celcius kami menuju kota Chiba dengan menggunakan bus yang telah disediakan panitia JICE (Japan International Cooperation center).
Sesampainya di Chiba kami langsung mengikuti kegiatan orientasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kedubes Jepang, Kedubes Indonesia dan Presiden Direktur JICE.  Keesokan harinya dilanjutkan dengan jalan-jalan di Asakusa Nakamise (shoping street), dan dilanjutkan dengan kelas Bahasa Jepang di kantor JICE selama 5 jam.
Ketika jam bebas, saya mencoba keliling kota Tokyo dengan menggunakan kereta. Walaupun sudah membawa rute peta stasiun, tetapi akhirnya tetap bingung juga. Sistim transportasi di Jepang benar-benar rapi, dengan tersedianya informasi di stasiun maupun halte bus yang dapat memudahkan pengguna transportasi untuk menggunakanya. Serta petugas yang siap membantu ketika kita membutuhkan bantuan, dan tersedianya fasilitas khusus untuk orang yang berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda.
Tak terlihat sampah yang berserakan di jalan. Macet dan bunyi klakson kendaraan bermotor pun hampir tidak ada. Tak sedikit orang yang berlalu lintas menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat di sepanjang jalan terdapat jalan yang bergerigi, dengan bentuk bulat maupun memanjang dan berwarna merah maupun kuning, untuk apakah kegunaannya? Ketika melihat seseorang tunanetra yang berjalan menggunakan tongkat, saya baru sadar ternyata  tanda jalan itu disediakan untuk penyandang tunanetra yang bisa menuntunnya hingga ketempat yang dituju.
Hari ketiga rombongan kami menuju prefektur Yamanashi, tepatnya di kota Kofu. Kota Kofu adalah kota yang menjadi pusat pemerintahan salah satu Samurai legendaris Jepang, yaitu Takeda Shingen. Disana kami mengunjungi universitas Yamanashi Gakuin dan SMA Kofu Daiichi dan tempat pembudidayaan strawberry. Disana kami diajarkan bagaimana cara membudidayakan strawberry dan sekaligus memetik langsung strawberry dari pohonnya. Wow, strawberrynya berbeda dengan jenis strawberry yang pernah saya makan, besar sekali.
Ketika di Universitas Yamanashi Gakuin kebetulan saya ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengucapkan kata sambutan. Yang sangat berkesan bagi saya adalah dapat berbagi pengetahuan tentang beladiri Jepang kepada Mahasiswa club Judo universitas Yamanashi Gakuin. Ketika di SMA Kofu Daiichi pun saya mendapatkan kesempatan ditunjuk sebagai MC di acara ramah tamah sekaligus pengenalan budaya Indonesia selama 3 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan dengan pengenalan ekstra kurikuler sekolah meliputi menulis kaligrafi (Shodo), Upacara Minum teh (Shado) dan pertunjukan acapela dari Siswa Kofu Daiichi. 

Bersama host family

Setelah itu kami dipertemukan dengan keluarga homestay masing masing, saya sempat shock karena tidak ada anak perempuan seumuran di keluarga homestay saya hahaha. Selama di rumah keluarga homestay, kami saling berdiskusi banyak hal mengenai budaya, sejarah maupun isu-isu agama yang sedang hangat terjadi. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat menambah wawasan saya. Saat-saat perpisahan dengan keluarga homestay pun, saya sempat menangis karena tak kuasa menahan haru untuk berpisah. Kebaikan mereka akan selalu saya kenang, dan juga kenangan bersama salah seorang siswa SMA Kofu Daiichi.

Thursday, 5 February 2015

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN
Oleh Farikhatul Jannah

Setetes air mata bahagia dan senyum saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional Haneda Tokyo Jepang pada Senin, 20 Januari 2015. “Assalaamu’alaikum Japan..” kuucapkan setelah turun dari pesawat ANA (NH 856) sembari menghirup udara pagi sejuk nan bersih, serta ucapan rasa syukur pada Rabbku yang telah mengizinkan saya bisa merasakan dinginnya musim fuyu di Jepang.

Menjadi salah satu orang yang beruntung dari Indonesia dalam program Nihongo Taiken Ryokou selama satu minggu adalah buah manis dari kontes yang pernah saya ikuti 27 September 2014 lalu. Terima kasih Kyouritsu International Foundation sebagai pihak penyelenggaranya yang telah mengantarkan kelima pemenang dari Indonesia menuju negara impian.

Sakura di musim Salju dengan latar belakang Tokyo Sky Tree
 

Hari pertama berada di Jepang merasakan atmosfer culture shock, melihat orang Jepang yang begitu disiplin akan waktu. Kebiasaan berjalan kaki setelah turun dari kereta menuju tempat tujuan kurasakan juga sebagaimana orang Jepang pada umumnya. Semua terlihat rapih. Saat berjalan, di Tokyo memiliki aturan bagi pejalan kaki untuk berjalan disebelah kiri sedangkan sebelah kanan hanya untuk orang yang mendahului karena terburu-buru. Berbeda terbalik jika berada di Osaka.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Kyouritsu International Foundation. Bersama pemenang lainnya dari Vietnam, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Indonesia tentunya mengikuti pembukaan program Nihongo Taiken Ryokou. Saat pembukaan, kami masing-masing dari setiap negara memberikan sambutan dan memberikan kesan pertama saat tiba di Jepang. Selanjutnya, kami rombongan dari Indonesia mengunjungi Kedutaan Besar Indonesia yang berada di Shinagawa,Tokyo. Malam harinya, kami makan bersama dengan pihak management Kyouritsu. Saat makan, biasa saya dan dua orang muslim dari Indonesia pilih-pilih makanan yang halal, tidak sebebas mereka yang bisa memakan apapun yang dihidangkan di meja makan.

Hari kedua saya berkunjung ke salah satu Kuil bernama Kanda Myoujin masih berada di Tokyo. Sebelum memasuki kuil, sama halnya dengan orang muslim yang melakukan ritual seperti wudhu. Bedanya, disini hanya membasuh kedua tangan dan berkumur. Memasuki kuil ini kujadikan sebagai salah satu pembelajaran kebudayaan Jepang. Setelah itu,mengunjungi Universitas Meiji yang letaknya tidak begitu jauh dari kuil Kanda Myoujin. Melihat betapa megahnya universitas ini, terlintas angan untuk bisa melanjutkan sekolah disini. Hehehe mimpi boleh kan yaa, gratis ko. Kunjungan pada hari itu, tidak selesai sampai di Universitas Meiji saja, berlanjut menuju Kyoritsu Foundation Japanese School. Di sana saya, dan semua kontestan dari kelima negara mengikuti perkuliahan di sekolah itu.

Hari sudah terlihat gelap, Padahal masih jam 5 sore waktu itu. Karena musim dingin, Jepang lebih cepat berganti malam. Badan dan kaki sudah mulai pegal-pegal. Tapi, tak begitu terasa karena menikmati perjalanan sore hari ditemani hujan salju. Selanjutnya, tempat terakhir yang dikunjungi untuk hari itu adalah Studio Foto khusus untuk pemakaian kimono. Yeah, akhirnya pakai kimono juga ^_^ . kalau Yukata mah sudah biasa pakai di kampus saat acara-acara tertentu, lebih simple. Kimono bahannya berbeda, obinya juga lebih lebar. Setelah selesai action dihadapan kamera, tibalah waktunya untuk kembali ke hotel Dormy Inn.

Hanya beberapa menit istirahat untuk melakukan ibadah sholat, saya kembali keluar. Terlanjur membuat janji dengan teman Jepangku Asuka Tachizaki namanya. Dia pernah belajar Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang. Sudah menjadi teman baik, kami bela-belakan untuk bertemu di negara kelahirannya. Hari kedua aktivitas full, ditutup dengan makan malam bersama Asuka dan melihat lebih dekat indahnya Tokyo Sky Tree di malam hari.

Bertemu Asuka San :)
 

Hari ketiga berada di Asakusa, belum kujumpai lebatnya salju. Sempat turun butiran-butiran salju lembut dari langit, membuatku ingin menangkap setiap butiran-butirannya. Namun salju itu selalu saja segera mencair. Beginilah keadaanya, Meskipun tak ada tumpukkan salju di kota ini, udara masih tetap dingin kurasakan. Dari hotel Dormy Inn Asakusa tempatku menginap, pagi harinya kami pindah hotel ke Ko no ha yang ada di Gunma. Perjalanan sekitar 4 jam menggunakan Bus. Setelah tiba disana, subhanallah...

Ciptaan Tuhan yang indah, seindah yang memandangnya hehehe. bisa kulihat hamparan putih salju itu sesuatu banget. Bahkan bisa memegang dan memakannya seperti kakigori (es serut ala Jepang yang biasa diminum saat musim panas). Ya, di tempat Kusatsu International Ski ini memang untuk kami rasakan pengalaman bermain Snowshoe dan Ski bersama teman-teman kelima negara ASEAN ku. Meskipun Snowshoe hanya berjalan kaki menyusuri hutan bersalju, tidak mudah juga ternyata. Terasa agak berat berjalan dengan sepatu khusus untuk Snowshoe ini.

Esok harinya barulah saya mencoba Ski. Waaw... pelatihnya sabar deh ngelatih kita-kita yang baru pertama kali bermain ski. Sesekali saya jatuh, susah untuk bangun :D. Tapi,saat berulang kali berlatih akhirnya bisa juga meluncur dari ketinggian yang engga tinggi-tinggi amat sih,, hehehe. Merasakan dinginnya salju di tempat Ski, pulang ke hotel selalu dimanjakan dengan Onsen (tempat berendam air panas). Untunglah hotel ini, menyediakan private onsen room, kalau tidak ada... mungkin saya takkan pernah bisa merasakannya. Karena onsen pada umumnya itu tempat “pemandian bersama” untuk mandi berendam air panas. Meskipun Pemandian air panas disediakan terpisah untuk pria dan wanita. Tetap saja, yang wanita ya nyampur semua. Malu ah, hehehe. Oh ya, hotel ini bentuknya Ryokan. Jadi, sejenis Japanese hotel gitu. Penginapan dengan fasilitas dan bangunan berarsitektur Jepang ini, menyediakan kamar bergaya Jepang yang berlantaikan tatami. Tidurnyapun menggunakan futon.

Hari berikutnya kami kembali menuju Dormy inn Asakusa. Sebelumnya, mampir terlebih dahulu ke Karuizawa Outlet. Semacam tempat berbelanja dan pusat oleh-oleh. Sampai di hotel sekitar jam 5 sore hari. Sore itu juga, setelah menaruh barang-barang di kamar, kami langsung menuju Sky Tree. Dari stasiun Asakusa, hanya satu stasiun saja dilewati langsung sampai ke tempat tujuan. Sebelumnya, saya dan Asuka Tachizaki sudah pernah melihat lebih dekat Sky Tree di malam hari. Tetapi kali ini, saya mencoba menaiki “Pohon Langit Tokyo” itu untuk melihat keindahan kota Tokyo dari ketinggian 634 meter di waktu senja. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan.

Esok harinya, Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu karena ada jadwal kegitan bebas. Kumanfaatkan waktu itu untuk bertemu seniorku yang sudah lulus dari UNNES yang sekarang sedang melanjutkan studi di Jepang. Mba Dyah namanya. Wanita cantik yang mengajariku banyak hal tentang menjadi muslim yang tinggal di Jepang. Mengajariku bagaimana pintar-pintarnya mengambil waktu dan tempat sholat di tempat umum, termasuk mengajariku saat memilih makanan yang halal. Ini penting, karena hampir semua makanan yang ada disini menggunakan daging babi.

Saya dan Mba Dyah berkeliling di Asakusa, melihat-lihat bangunan jinja (kuil) yang tempatnya tidak begitu jauh dari hotel. Setelah itu, langsung menuju ke Shibuya. Waah.. Shibuya jauh lebih ramai dibanding Asakusa. Kotanya anak muda banget disini. Tau patung anjing Hachiko? Saya bekesempatan bisa foto disamping patung itu. Kami berkeliling di Shibuya, makan siang dengan harga murah dan halal itu menyenangkan. Dilanjut, berbelanja baju,ke Donki Hote pusat oleh-oleh, dan Hyaku en Shop. Waktu cepat berlalu. 6 jam bersama Mba Dyah rasanya kurang dan masih ingin melihat-lihat yang lainnya tanpa sadar meski kaki sebenarnya sudah terasa pegal-pegal.

 
bersama Mbak Dyah (alumni PBJ UNNES yang sedang studi di Tokyo

Tanggal 26 Januari, sudah waktunya kembali ke negara asal. Huhuhu, berat rasanya. Berat meninggalkan negara indah ini, dan juga berat membawa barang bawaan yang semakin bertambah, hehehe. Alhamdulillah tepat pukul 16:00 saya tiba di Bandara Soekarno Hatta turun dari pesawat ANA (NH855) dan sudah disambut oleh kakak. Seperti baru bangun dari mimpi setelah berada di Jakarta meraskan udara yang sangat panas. Bukan lagi dinginnya Jepang. Satu minggu memang waktu yang sebentar. Tetapi, Nihon wa watashi ni omoshiroi koto o oshiete kuremashita. “Jepang telah memberiku hal-hal yang menarik” Selama satu minggu menikmati suhu dinginnya Jepang, tidak mengurangi rasa syukurku pada Yang Maha Kuasa. Atas IzinNya, dan doa orang tualah yang membersamai hasil prestasi belajarku hingga bisa merasakan musim dingin disana. Salju sudah kujumpai, tapi belum kujumpai Indah mekarnya bunga Sakura. Semoga berkesempatan lagi berkunjung ke Jepang di Musim semi dan mengagumi momiji di musim gugur. ^_^

Thursday, 21 March 2013

[Share] Tips dan Trik Mencari Pekerjaan

Juni 8th, 2007 by tjahjo-nation
Beberapa hari yang lalu, chatting dengan seorang kawan, yang masih belum dapet kerjaan. Dia 3 taun di bawah saya dan ada beberapa kawan2nya yang masih belum bekerja. Lowongan yang ada, kebanyakan membutuhkan pengalaman, sehingga bikin dia gak mau kirim untuk lowongan itu. Hmmm… sepertinya, sudah kalah sebelum bertarung. Klo ambil perumpamaan, "gimana mo dapet istri, lha wong nyatain sama yang jomblo ajah gak berani"… hihihi.

Sunday, 3 March 2013

EFEKTIVITAS METODE INDUKTIF DALAM LATIHAN DASAR PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG DI SMA NEGERI 2 SUKOREJO

Pembelajaran merupakan sebuah kegiatan yang membutuhkan cara atau metode agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran yang beragam membuat seorang pengajar harus mampu memilih metode yang tepat untuk menunjang hasil pembelajaran. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mencoba metode induktif dalam latihan dasar pembelajaran bahasa jepang, di sebuah SMA yang notabene memiliki hasil pembelajaran rendah. Berdasarkan hasil penelitian, metode induktif yang diterapkan penulis dalam latihan dasar pembelajaran bahasa Jepang, terbukti dapat memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan hasil sebelumnnya yang menggunakan metode lain.


PENGGUNAAN METODE INDUKTIFDALAM PENGAJARAN KATA KERJA BENTUK ~TE DI SMA NEGERI 7 CIREBON

Penelitian ini bertujuan untukmengetahui efektivitas pengajaran secara induktif pada perubahan kata kerja bentuk ~masu kedalam kata kerja bentuk ~te bagi siswa SMA.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian eksperimen yaitu menguji keefektifan metode induktif dalam pengajaran perubahan kata kerja bentuk ~te.


IDENTIFIKASI KESULITAN MEMPELAJARI BAHASA JEPANG PADA SISWA SMA ISLAM SUDIRMAN AMBARAWA

Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut.Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek tersebut. Namun pasti ada kendala setiap proses pembelajaran, baik dari faktor sekolah, guru maupun murid.

KESANTUNAN IMPERATIF BAHASA JEPANG DALAM DRAMA TADA KIMI WO AISHITERU

Dalam sebuah interaksi pada kehidupan sehari-hari antara penutur dan mitra bicara tidak lepas dari ujaran imperatif. Ujaran imperatif adalah tindak tutur yang membuat seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Dalam bahasa Jepang, banyak ragam yang dapat digunakan untuk menyatakan pesan imperatif. Agar pesan imperatif dapat diterima oleh lawan bicara dengan baik, maka perlu menggunakan strategi kesantunan. Rata-rata pembelajar Bahasa Jepang hanya menggunakan kalimat imperatif yang umum. Berdasarkan hasil analisis, banyak ragam yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan imperatif, baik secara eksplisit maupun implisit . Ragam ujaran imperatif yang digunakan tergantung pada status sosial lawan bicara maupun situasi.

ANALISIS PENGGUNAAN URESHII, TANOSHII DAN YOROKOBU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG

Sinonim dalam bahasa Jepang disebut dengan ruigigo. Ruigigo hampir terdapat di semua kelas kata dalam bahasa Jepang, baik dalam kosakata yang sejenis maupun yang berbeda jenis. Dalam bahasa Indonesia, ketiga kata tersebut mempunyai makna yang mirip, yaitu „senang‟.
Penelitian deskriptif ini dilakukan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan kata ureshii, tanoshii dan yorokobu dalam kalimat Bahasa Jepang yang terdapat pada wacana berbahasa Jepang, serta untuk mengetahui apakah ketiga kata tersebut bisa saling menggantikan dalam penggunaannya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik hubung banding.

Sunday, 27 January 2013

150 ribu kuota Beasiswa Bidik Misi 2013


Jumlah penerima Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa Miskin (Bidik Misi) akan ditingkatkan dari 92.000 mahasiswa penerima menjadi 150.000 mahasiswa pada 2013. Penambahan jumlah penerima beasiswa ini agar semakin banyak mahasiswa miskin yang bisa berkuliah di perguruan tinggi negeri.
"Sasaran lebih jauh, agar jeratan kemiskinan bisa diputus melalui pendidikan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh saat berdialog dengan mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi di Universitas Negeri Manado, Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2012).

Thursday, 8 November 2012

Penerima Japanase Language Program JF 2013

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) Dyah Asih Pramawita, meraih beasiswa Japanese Language Program for Overseas Students University Students dari The Japan Foundation.

Friday, 22 June 2012

PENDIDIKAN JEPANG YANG EGALITARIAN

Ai Sumirah Setiawati 

A. PENDAHULUAN
Egalitarianism berasal dari bahasa Prancis égal, yang berarti equal dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa Indonesia berarti sama, setara atau sederajat. Dalam doktrin politik dinyatakan bahwa semua manusia harus diperlakukan sama sejak ia lahir. Setiap manusia memiliki hak yang ”sama” untuk mendapat perlakuan yang adil.
Dalam bahasa Jepang, egalitarian disebut sebagai byoudoushugi yang merupakan istilah yang bisaa dipakai dalam agama Budha.
Egalitaran dalam pendidikan, bahwa sekolah jangan menjadi tempat berkumpul kelas masyarakat tertentu seperti hanya anak-anak orang kaya dan pejabat, tetapi lapisan masyarakat tak mampu juga harus mendapat tempat.
Dalam dunia pendidikan di Jepang tema-tema egalitarian muncul pada masa setelah Perang Dunia II (PD II).

Thursday, 21 June 2012

Pendidikan Moral di Jepang

“Sebenarnya apa sih landasan pendidikan moral di Jepang?” "Bagaimana juga pendekatan pendidikan moral di Jepang?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat zemi* setahun yang lalu.

Hening sejenak. Tampaknya saya melontarkan pertanyaan yang cukup sulit untuk orang Jepang.

Akhirnya senior saya menanggapi. Landasan moral di sekolah-sekolah jepang diambil dari intisari berbagai macam agama dan etika yang ada di dunia ini.