Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Sunday, 25 August 2019

Menjadi Juara pada Japanese Experience Contest tidak Menghentikan Mimpi Fajar Ramdhani untuk Terus Berprestasi


"Ketika pengumuman hasil, pertama kali nomor peserta saya dipanggil "zero nana ban" (peserta nomor 07)
Deg. Serius? Dalam hati
"Eee. Fajyaru Ramudanii dono"
Dono? Eh? Ya saya maju, diberikan piagam dan "bukti" untuk pergi ke Jepang sebagai hadiah"
Sepenggal kesan lucu dari Fajar Ramdhani yang telah memenangi Japanese Experience Contest atau Kyouritsu Japan Taiken Contest. Dia tidak menyangka bahwa namanya akan dipanggil pertama oleh panitia sebagai salah satu pemenang kontes ini. 

Thursday, 22 November 2018

Share QA/Tips "Perjalanan Juara Pidato Seli Inayati di Jepang"

Ohayouuu.... sudah pada taw kan berita tentang Seli Inayati yang menjadi juara Nasional speech contest Nasional dan berangkat ke Jepang kemarin? berita terkait disini
Nah kali ini kita tanyakan bagaimana sih pengalaman ketika di Jepang sana, dan berbagi tips dan tricknya.

Q : Bagaimana sih pengalaman pertama di Jepang kemarin?
Alhamdulillah dalam kegiatan kemarin, walau judulnya adalah hadiah dari perlombaan, namun saya dapat merasakan bagaimana kehidupan masyarakat Jepang terutama kota tokyo secara langsung dan bukan berkesan sebagai turis. Pengalaman sebagai turis dan penduduk lokal itu beda banget, kami merasakan susah senangnya berangkat kerja umpel2xan di chikatetsu pada rush hour, ke kantor, makan siang bersama di kantin. Pokoknya banyak pengalaman yang belum tentu orang lain bisa merasakannya.

Q : Sebenarnya Acara utamanya seperti apa ya?
Acara utamanya adalah saya beserta para juara perwakilan dari 10 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Vietnam, Myanman, Thailan, Laos, Kamboja dan Filipina) diundang untuk mempresentasikan pidato yang kami bawakan di tingkat Nasional di depan para tamu undangan yang kebanyakan adalah bos perusahaan dan duta besar negara masing2x peserta.
Kegiatan ini di sponsori oleh Japan Overseas Enterprise Association, dari namanya juga sudah bisa ditebak bahwa ini adalah Asosiasi atau perkumpulan perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki cabang di luar Jepang.

Wakil 10 Negara

Q : Dengar-dengar dapat penghargaan lagi ya?
Alhamdulillah, walau event ini sebenarnya bukan lagi lomba, tetapi hanya kesempatan bagi para juara Nasional untuk membawakan pidato, namun Alhamdulillah Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai salah satu Pidato terfavorit/terbaik, selain wakil Myanmar.

Q : Selama di sana apa saja kegiatannya Sel?
KEgiatan disana lebih banyak ke kunjungan ke perusahan2x seperti Toppan Printing, Aji no Moto, ACC, Honda dan Panasonic. Walaupun judulnya kunjungan ke perusahaan, namun kami berstatus VIP, jadi bener2x merasa tersanjung. Selain kunjungan ke perusahaan kami juga pergi wisata ke objek wisata sekitaran tokyo seperti gedung tertinggi Tokyo Skytree, Disneyland, Odaiba, mengunjungi Jinjya (Shinto) dan Tera (Budha) sebagai kunjungan budaya, tur keliling tokyo dengan bis wisata juga :)

Kunjungan perusahaan

Q : Boleh bagi tipsnya ngga Senpai supaya bisa mengikuti jejaknya?
boleh aja, tips dari saya setidaknya seperti ini

  1. persiapkan diri jauh jauh hari, setidaknya 3-4 bulan sebelum lomba sudah harus konsultasi ke sensei mengenai tema naskah pidato, garis besarnya.
  2. Jangan malas!!! jangan hanya setengah setengah kalau mau berusaha. maksimalkan apa yang bisa kita lakukan, misalnya sering2xlah konsultasi ke sensei karena beliau lebih tahu dan berpengalaman, jadi kita harus "ngemis" ilmu ke sensei.
  3. Jaga hubungan bak dengan sensei, jangan kerad!. beliau tentu lebih berpengalaman, berilmu dan sebisa mungkin kita menyerap dan mengaplikasikan ke diri kita. Terkadang sudut pandang berbeda dari orang lain apalagi sensei akan sangat berguna dalam menyusun naskan tema yang "calon juara"
  4. Kuatkan mental!, karena proses latihan dan sebagainya itu menghabiskan waktu berbulan bulan. Pidato bukan hanya sebatas naskah saja, kemampuan verbal lebih menentukan. bagaimana menjabarkan naskah pidato kita dalam bahasa verbal (dalam hal ini bahasa jepang dengan segala ragam kerumitannya) sangat sulit, hanya latihan dan persiapan yang matang yang bisa membantu kita. Ada kalanya lelah dan capek, tapi kita harus terus latihan sampai muntah dan akhirnya dapet tiket :)
Q :  ada pesan pesan buat yang lain supaya sukses juga senpai?
Pokoknya jangan pernah menyerah!, jangan takut!, keep positive, kalo capek istirahat, kalo laper makan, kalo haus minum. Jangan gampang sakit hati lalu ngambek, jangan baper. karena nanti akan banyak omongan dan omelan tidak menyenangkan. Open mind, jaga hubungan baik dengan sensei dan teman2x juga :)
Gambareeeee !!!





Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang

Monday, 15 October 2018

Sherafina Mewakili Prodi PBJ dalam Program Beasiswa ke Jepang bagi Pelajar Islam

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Halo sahabat PBJ.
Kali ini kita akan bergabi pengalaman dari Sherafina mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES yang lolos seleksi beasiswa  IFSEE bagi pelajar Islam untuk mengenal Islam di Jepang.
Selamat menyimak


Alhamdulilah, pada September bulan lalu tepatnya pada tanggal 17-21 saya, Sherafina Juniva Nareswari mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES,  mendapatkan kesempatan mengunjungi Tokyo, Jepang sebagai salah satu delegasi program beasiswa bagi pelajar islam untuk belajar mengenai islam dari suatu lembaga swasta yaitu IFSEE setelah mengikuti serangkaian seleksi yang ada. Informasi tersebut saya dapat dari media sosial yaitu instagram.

Wednesday, 28 February 2018

DOSEN DAN MAHASISWA PBJ UNNES LOLOS LAGI SELEKSI KE JEPANG




Bersama seluruh peserta lolos seluruh Indonesia
Program Southeast Asian Teachers Training in Japan oleh The Japan Foundation telah kembali terlaksana sejak 10 Januari dan berakhir pada tanggal 24 Februari 2018. Setelah tahun sebelumnya Universitas Negeri Semarang berhasil lolos dengan perwakilan satu dosen dan satu mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Tahun ini, Unnes juga kembali meraih prestasi di program tersebut dengan lolosnya dosen (Yuyun Rosliyah S. Pd.) dan mahasiswa (Jundi Nidaaul Fath, angkatan tahun 2014). Seperti tahun sebelumnya, awalnya seluruh peserta yang ada diharuskan untuk menulis esai dengan menggunakan bahasa Jepang untuk di seleksi oleh pihak The Japan Foundation.

Friday, 6 January 2017

LOLOS SELEKSI, DOSEN DAN MAHASISWA PBJ UNNES BERTOLAK KE JEPANG






Berbagai prestasi telah diraih Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang, salah satunya adalah dengan lolosnya dosen (Ai Sumirah Setiawati, S. Pd., M. Pd.) dan mahasiswa (Ayu Larasati, angkatan tahun 2013) dalam seleksi program "Southeast Asian Teachers' Training College Course" yang diadakan oleh The Japan Foundation di Osaka Jepang. Program ini merupakan program pelatihan bagi pengajar bahasa Jepang dan mahasiswa yang bahasa Jepang yang bercita-cita ingin menjadi pengajar bahasa Jepang. Seleksi ini meliputi beberapa tahap yaitu administrasi dan kesehatan. Sebagai syarat administrasi calon peserta dosen harus memiliki kemampuan (dibuktikan dengan sertifikat) bahasa Jepang N2 atau N1 yang merupakan level tertinggi dalam kemampuan berbahasa Jepang. Sementara untuk mahasiswa hanya disyaratkan minimal N3. Selain itu, baik dosen maupun mahasiswa harus membuat essay dalam bahasa Jepang tentang masalah pendidikan bahasa Jepang dan rencana pemecahan masalahnya jika mengikuti program ini.
Program yang akan berlangsung selama 45 hari mulai tanggal 5 januari sampai dengan 18 Februari ini meliputi materi bahasa Jepang, metode pengajarannya dan pengenalan budaya.  Meskipun mengikuti program yang sama, isi pelatihan untuk mahasiswa dibedakan dengan isi pelatihan untuk dosen. Menurut informasi dari peserta, materi pelatihan untuk mahasiswa secara gasris besar terdiri dari bahasa Jepang, pengenalan dan pemahaman budaya Jepang, pidato, interviu dengan penduduk setempat, Japanese variety (IT, home visit ke rumah orang Jepang, fieldwork ke Kyoto dan Nara dll), dan yang terakhir adalah materi metode pengajaran Bahasa Jepang. Sedikit berbeda dengan program untuk mahasiswa, materi pelatihan bagi dosen lebih banyak tentang metode pengajaran bahasa Jepang seperti bagaimana menjadikan suatu material mentah misalnya struk pembelian di supermarket menjadi sebuah materi bahasa Jepang yang baik. Meskipun demikian, para dosen pun mendapat kesempatan bersama dengan mahasiswa dalam hal Japanese variety tetapi dengan kemasan yang sedikit berbeda.
Semoga setelah mengikuti pelatihan ini baik dosen maupun mahasiswa bisa mempraktekkan ilmunya di Prodi Pendidikan Bahasa Jepang sehingga prodi ini semakin berkembang lebih baik dalam hal kualitasnya.

Tuesday, 15 November 2016

Kesempatan ke Jepang Semakin Luas

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang




Senin (14 November 2016) Prodi Pendidikan Bahasa Jepang kedatangan tamu dari PT Minori Jakarta. Kedatangan mereka untuk mensosialisasikan program internship di Jepang yang bisa diikuti oleh mahasiswa yang belajar bahasa Jepang.  Program ini akan dilaksanakan pada musim panas tahun 2017. Adapun seleksinya akan dilaksanakan pada bulan Februari, begitu penjelasan Mr. Sato dari PT Minori.
Tidak ada syarat yang memberatkan jika ingin mengikuti kegiatan ini karena syarat utamanya adalah berstatus AKTIF sebagai mahasiswa bahasa Jepang baik sastra maupun pendidikan. Syarat lain adalah dapat aktif berkomunikasi dalam bahasa Jepang ditambah skill bahasa Inggris. Program internship dilakukan di hotel yang berada di daerah Hokkaido dan Okinawa. Pengunjung hotel terdiri dari tamu dari berbagai negara, oleh karena itu selain bahasa Jepang bahasa Inggris juga penting.
Untuk mengikuti program ini mahasiswa tidak dipungut biaya. Biaya transportasi dan akomodasi akan ditanggung pihak perusahaan. Mahasiswa hanya perlu mempersiapkan biaya pembuatan pasport, visa dan transportasi dari daerah asal emnuju Jakarta. Hal ini dikarenakan pihak perusahaan hanya menanggung tiket pesawat dari bandara internasional Jakarta menuju Jepang.
Selain fasilitas tersebut, setiap bulannya peserta internship akan mendapat uang saku sekitar 50.000 yen. Mahasiswa dapat mengikuti program ini dengan kurun waktu bermacam-macam, ada yang tiga bulan ada juga yang enam bulan.
Menurut penjelasan Mr. Sato, jika mahasiswa mampu menunjukkan prestasi berbahasa Jepang seetelah mengikuti program ini, maka PT Minori akan membantu mencarikan pekerjaan di Jepang bagi mahasiwa yang bersangkutan jika sudah lulus nanti.
Karena ini merupakan kesempatan yang sangat baik, maka mahasiswa diharapkan melakukan persiapan mulai sekarang untuk seleksi bulan Februari nanti.

Tuesday, 4 October 2016

Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes Kembali Kirim Enam Mahasiswa Ikuti Joint Degree



Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang kembali mengirim Enam mahasiswanya ke Seifu Institute of Technology untuk mengikuti program Joint Degree selama 11 bulan (2 semester). Ke enam mahasiswa tersebut diantaranya adalah, Agatha Putri Hersanti, Aiffatul Fajria, Atikaa Hatmaning Triyantika, Dwi Nugrahenni, Hanif Nur Fauzi, dan Rejeki Dyah Ayu Suci (semuanya mahasiswa PBJ angkatan 2013).


Tiba di Bandara


 
Sedang Mengurus Berkas

Kontrak Handphone


 
di Jembatan Penyeberangan Abeno Harukas bersama Ibu Ai Sumirah Setiawati dan Ibu Dwi Puspitosari

Kaitenzushi Challenge with Dwi Puspitosari Sensei :)

 
Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Seifu Institute of Technology
            Mereka akan kuliah disana selama 11 bulan (2 semester). Seperti program Joint Degree yang sebelumnya, pada kesempatan ini mereka juga tidak hanya kuliah tetapi juga akan melakukan arubaito (kerja paruh waktu) untuk menambah pengalaman dan bisa berusaha secara mandiri di kehidupan sehari-hari. Tentu saja, tentang mental dan fisik yang harus kuat, telah mereka siapkan setelah melihat angkatan sebelumnya yang telah sukses mengikuti program tersebut. Program Joint Degree Seifu Institute of Technology ini diharapkan terus berlangsung dan mewujudkan impian mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES yang ingin belajar bahasa asing secara langsung di Jepang dan merasakan bagaimana bertahan hidup disana.
            “Perasaannya senang bisa gabung joint degree. Semenjak tahu senpaitachi tahun lalu ikut program ini, memang sudah ada rencana ingin ikut program ini. Persiapannya banyak, mulai dari akademik, finansial, mental dan kesehatan. Dan memang benar, program ke luar negeri itu mengharuskan banyak sekali dokumen yang harus dikumpulkan. Siap capek. Rasa nervous pasti ada, apalagi di awal. Program ini bukan hanya untuk senang-senang saja, pokoknya siap capek. Untuk PBJ , raihlah mimpi kalian setinggi apapun itu. Jangan pernah takut dan ragu. Yang bisa dibilang modal nekat itu perlu, tapi juga harus disertai tanggung jawab.” Jelas Agatha Putri Hersanti.

Tuesday, 12 May 2015

PPL di Jepang? Why Not?

Dekan FBS menyerahkan beasiswa

Senin 11 Mei 2015, dekan Fakulatas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang. Beasiswa tersembut adalah untuk membantu mahasiswa yang akan mengikuti program Joint Degree di Seifu Institute of Technology Osaka Jepang selama satu tahun.
Selain ketiga mahasiswa tersebut, ada dua orang mahasiswa yang akan mengikuti program ini dengan biaya sendiri. Di Osaka mereka akan belajar bahasa dan budaya Jepang. Selain itu, mereka juga akan melakukan praktek mengajar (Program Pengalaman Lapangan) di salah satu SMP atau SMA yang berada dalam manajemen Seifu grup.
Dekan FBS mengungkapkan bahwa program ini sebagai salah satu wujud upaya Unnes menuju universitas bertaraf internasional. 
Depan kiri ke kanan: Nabella, Sulistya Winanti, Gilau Aulia, Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum., Renita Putri, Firdaus Haris R., Ai Sumirah Setiawati, Drs. Agus Yuwono, M. Si (PD1)
Belakang kiri ke kanan: Dr. Zaim El Mubarok, M. Ag. (Kajur BSA), Dr. Abdurrahman Faridi, M. Hum (PD2), Drs. Syahrul Syah Sinaga, M. Hum. (PD3)

Wednesday, 11 February 2015

BANGGA BERJAS KUNING

Dany Buyung Yudha Prasetya

Memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia


Brrr..dingin banget”, itulah kalimat pertama yang dikatakan teman-teman rombongan program Jenesys Indonesia ketika keluar dari bandara Narita. Disambut suhu udara yang mencapai 3 derajat celcius kami menuju kota Chiba dengan menggunakan bus yang telah disediakan panitia JICE (Japan International Cooperation center).
Sesampainya di Chiba kami langsung mengikuti kegiatan orientasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kedubes Jepang, Kedubes Indonesia dan Presiden Direktur JICE.  Keesokan harinya dilanjutkan dengan jalan-jalan di Asakusa Nakamise (shoping street), dan dilanjutkan dengan kelas Bahasa Jepang di kantor JICE selama 5 jam.
Ketika jam bebas, saya mencoba keliling kota Tokyo dengan menggunakan kereta. Walaupun sudah membawa rute peta stasiun, tetapi akhirnya tetap bingung juga. Sistim transportasi di Jepang benar-benar rapi, dengan tersedianya informasi di stasiun maupun halte bus yang dapat memudahkan pengguna transportasi untuk menggunakanya. Serta petugas yang siap membantu ketika kita membutuhkan bantuan, dan tersedianya fasilitas khusus untuk orang yang berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda.
Tak terlihat sampah yang berserakan di jalan. Macet dan bunyi klakson kendaraan bermotor pun hampir tidak ada. Tak sedikit orang yang berlalu lintas menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat di sepanjang jalan terdapat jalan yang bergerigi, dengan bentuk bulat maupun memanjang dan berwarna merah maupun kuning, untuk apakah kegunaannya? Ketika melihat seseorang tunanetra yang berjalan menggunakan tongkat, saya baru sadar ternyata  tanda jalan itu disediakan untuk penyandang tunanetra yang bisa menuntunnya hingga ketempat yang dituju.
Hari ketiga rombongan kami menuju prefektur Yamanashi, tepatnya di kota Kofu. Kota Kofu adalah kota yang menjadi pusat pemerintahan salah satu Samurai legendaris Jepang, yaitu Takeda Shingen. Disana kami mengunjungi universitas Yamanashi Gakuin dan SMA Kofu Daiichi dan tempat pembudidayaan strawberry. Disana kami diajarkan bagaimana cara membudidayakan strawberry dan sekaligus memetik langsung strawberry dari pohonnya. Wow, strawberrynya berbeda dengan jenis strawberry yang pernah saya makan, besar sekali.
Ketika di Universitas Yamanashi Gakuin kebetulan saya ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengucapkan kata sambutan. Yang sangat berkesan bagi saya adalah dapat berbagi pengetahuan tentang beladiri Jepang kepada Mahasiswa club Judo universitas Yamanashi Gakuin. Ketika di SMA Kofu Daiichi pun saya mendapatkan kesempatan ditunjuk sebagai MC di acara ramah tamah sekaligus pengenalan budaya Indonesia selama 3 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan dengan pengenalan ekstra kurikuler sekolah meliputi menulis kaligrafi (Shodo), Upacara Minum teh (Shado) dan pertunjukan acapela dari Siswa Kofu Daiichi. 

Bersama host family

Setelah itu kami dipertemukan dengan keluarga homestay masing masing, saya sempat shock karena tidak ada anak perempuan seumuran di keluarga homestay saya hahaha. Selama di rumah keluarga homestay, kami saling berdiskusi banyak hal mengenai budaya, sejarah maupun isu-isu agama yang sedang hangat terjadi. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat menambah wawasan saya. Saat-saat perpisahan dengan keluarga homestay pun, saya sempat menangis karena tak kuasa menahan haru untuk berpisah. Kebaikan mereka akan selalu saya kenang, dan juga kenangan bersama salah seorang siswa SMA Kofu Daiichi.

Thursday, 5 February 2015

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN
Oleh Farikhatul Jannah

Setetes air mata bahagia dan senyum saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional Haneda Tokyo Jepang pada Senin, 20 Januari 2015. “Assalaamu’alaikum Japan..” kuucapkan setelah turun dari pesawat ANA (NH 856) sembari menghirup udara pagi sejuk nan bersih, serta ucapan rasa syukur pada Rabbku yang telah mengizinkan saya bisa merasakan dinginnya musim fuyu di Jepang.

Menjadi salah satu orang yang beruntung dari Indonesia dalam program Nihongo Taiken Ryokou selama satu minggu adalah buah manis dari kontes yang pernah saya ikuti 27 September 2014 lalu. Terima kasih Kyouritsu International Foundation sebagai pihak penyelenggaranya yang telah mengantarkan kelima pemenang dari Indonesia menuju negara impian.

Sakura di musim Salju dengan latar belakang Tokyo Sky Tree
 

Hari pertama berada di Jepang merasakan atmosfer culture shock, melihat orang Jepang yang begitu disiplin akan waktu. Kebiasaan berjalan kaki setelah turun dari kereta menuju tempat tujuan kurasakan juga sebagaimana orang Jepang pada umumnya. Semua terlihat rapih. Saat berjalan, di Tokyo memiliki aturan bagi pejalan kaki untuk berjalan disebelah kiri sedangkan sebelah kanan hanya untuk orang yang mendahului karena terburu-buru. Berbeda terbalik jika berada di Osaka.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Kyouritsu International Foundation. Bersama pemenang lainnya dari Vietnam, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Indonesia tentunya mengikuti pembukaan program Nihongo Taiken Ryokou. Saat pembukaan, kami masing-masing dari setiap negara memberikan sambutan dan memberikan kesan pertama saat tiba di Jepang. Selanjutnya, kami rombongan dari Indonesia mengunjungi Kedutaan Besar Indonesia yang berada di Shinagawa,Tokyo. Malam harinya, kami makan bersama dengan pihak management Kyouritsu. Saat makan, biasa saya dan dua orang muslim dari Indonesia pilih-pilih makanan yang halal, tidak sebebas mereka yang bisa memakan apapun yang dihidangkan di meja makan.

Hari kedua saya berkunjung ke salah satu Kuil bernama Kanda Myoujin masih berada di Tokyo. Sebelum memasuki kuil, sama halnya dengan orang muslim yang melakukan ritual seperti wudhu. Bedanya, disini hanya membasuh kedua tangan dan berkumur. Memasuki kuil ini kujadikan sebagai salah satu pembelajaran kebudayaan Jepang. Setelah itu,mengunjungi Universitas Meiji yang letaknya tidak begitu jauh dari kuil Kanda Myoujin. Melihat betapa megahnya universitas ini, terlintas angan untuk bisa melanjutkan sekolah disini. Hehehe mimpi boleh kan yaa, gratis ko. Kunjungan pada hari itu, tidak selesai sampai di Universitas Meiji saja, berlanjut menuju Kyoritsu Foundation Japanese School. Di sana saya, dan semua kontestan dari kelima negara mengikuti perkuliahan di sekolah itu.

Hari sudah terlihat gelap, Padahal masih jam 5 sore waktu itu. Karena musim dingin, Jepang lebih cepat berganti malam. Badan dan kaki sudah mulai pegal-pegal. Tapi, tak begitu terasa karena menikmati perjalanan sore hari ditemani hujan salju. Selanjutnya, tempat terakhir yang dikunjungi untuk hari itu adalah Studio Foto khusus untuk pemakaian kimono. Yeah, akhirnya pakai kimono juga ^_^ . kalau Yukata mah sudah biasa pakai di kampus saat acara-acara tertentu, lebih simple. Kimono bahannya berbeda, obinya juga lebih lebar. Setelah selesai action dihadapan kamera, tibalah waktunya untuk kembali ke hotel Dormy Inn.

Hanya beberapa menit istirahat untuk melakukan ibadah sholat, saya kembali keluar. Terlanjur membuat janji dengan teman Jepangku Asuka Tachizaki namanya. Dia pernah belajar Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang. Sudah menjadi teman baik, kami bela-belakan untuk bertemu di negara kelahirannya. Hari kedua aktivitas full, ditutup dengan makan malam bersama Asuka dan melihat lebih dekat indahnya Tokyo Sky Tree di malam hari.

Bertemu Asuka San :)
 

Hari ketiga berada di Asakusa, belum kujumpai lebatnya salju. Sempat turun butiran-butiran salju lembut dari langit, membuatku ingin menangkap setiap butiran-butirannya. Namun salju itu selalu saja segera mencair. Beginilah keadaanya, Meskipun tak ada tumpukkan salju di kota ini, udara masih tetap dingin kurasakan. Dari hotel Dormy Inn Asakusa tempatku menginap, pagi harinya kami pindah hotel ke Ko no ha yang ada di Gunma. Perjalanan sekitar 4 jam menggunakan Bus. Setelah tiba disana, subhanallah...

Ciptaan Tuhan yang indah, seindah yang memandangnya hehehe. bisa kulihat hamparan putih salju itu sesuatu banget. Bahkan bisa memegang dan memakannya seperti kakigori (es serut ala Jepang yang biasa diminum saat musim panas). Ya, di tempat Kusatsu International Ski ini memang untuk kami rasakan pengalaman bermain Snowshoe dan Ski bersama teman-teman kelima negara ASEAN ku. Meskipun Snowshoe hanya berjalan kaki menyusuri hutan bersalju, tidak mudah juga ternyata. Terasa agak berat berjalan dengan sepatu khusus untuk Snowshoe ini.

Esok harinya barulah saya mencoba Ski. Waaw... pelatihnya sabar deh ngelatih kita-kita yang baru pertama kali bermain ski. Sesekali saya jatuh, susah untuk bangun :D. Tapi,saat berulang kali berlatih akhirnya bisa juga meluncur dari ketinggian yang engga tinggi-tinggi amat sih,, hehehe. Merasakan dinginnya salju di tempat Ski, pulang ke hotel selalu dimanjakan dengan Onsen (tempat berendam air panas). Untunglah hotel ini, menyediakan private onsen room, kalau tidak ada... mungkin saya takkan pernah bisa merasakannya. Karena onsen pada umumnya itu tempat “pemandian bersama” untuk mandi berendam air panas. Meskipun Pemandian air panas disediakan terpisah untuk pria dan wanita. Tetap saja, yang wanita ya nyampur semua. Malu ah, hehehe. Oh ya, hotel ini bentuknya Ryokan. Jadi, sejenis Japanese hotel gitu. Penginapan dengan fasilitas dan bangunan berarsitektur Jepang ini, menyediakan kamar bergaya Jepang yang berlantaikan tatami. Tidurnyapun menggunakan futon.

Hari berikutnya kami kembali menuju Dormy inn Asakusa. Sebelumnya, mampir terlebih dahulu ke Karuizawa Outlet. Semacam tempat berbelanja dan pusat oleh-oleh. Sampai di hotel sekitar jam 5 sore hari. Sore itu juga, setelah menaruh barang-barang di kamar, kami langsung menuju Sky Tree. Dari stasiun Asakusa, hanya satu stasiun saja dilewati langsung sampai ke tempat tujuan. Sebelumnya, saya dan Asuka Tachizaki sudah pernah melihat lebih dekat Sky Tree di malam hari. Tetapi kali ini, saya mencoba menaiki “Pohon Langit Tokyo” itu untuk melihat keindahan kota Tokyo dari ketinggian 634 meter di waktu senja. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan.

Esok harinya, Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu karena ada jadwal kegitan bebas. Kumanfaatkan waktu itu untuk bertemu seniorku yang sudah lulus dari UNNES yang sekarang sedang melanjutkan studi di Jepang. Mba Dyah namanya. Wanita cantik yang mengajariku banyak hal tentang menjadi muslim yang tinggal di Jepang. Mengajariku bagaimana pintar-pintarnya mengambil waktu dan tempat sholat di tempat umum, termasuk mengajariku saat memilih makanan yang halal. Ini penting, karena hampir semua makanan yang ada disini menggunakan daging babi.

Saya dan Mba Dyah berkeliling di Asakusa, melihat-lihat bangunan jinja (kuil) yang tempatnya tidak begitu jauh dari hotel. Setelah itu, langsung menuju ke Shibuya. Waah.. Shibuya jauh lebih ramai dibanding Asakusa. Kotanya anak muda banget disini. Tau patung anjing Hachiko? Saya bekesempatan bisa foto disamping patung itu. Kami berkeliling di Shibuya, makan siang dengan harga murah dan halal itu menyenangkan. Dilanjut, berbelanja baju,ke Donki Hote pusat oleh-oleh, dan Hyaku en Shop. Waktu cepat berlalu. 6 jam bersama Mba Dyah rasanya kurang dan masih ingin melihat-lihat yang lainnya tanpa sadar meski kaki sebenarnya sudah terasa pegal-pegal.

 
bersama Mbak Dyah (alumni PBJ UNNES yang sedang studi di Tokyo

Tanggal 26 Januari, sudah waktunya kembali ke negara asal. Huhuhu, berat rasanya. Berat meninggalkan negara indah ini, dan juga berat membawa barang bawaan yang semakin bertambah, hehehe. Alhamdulillah tepat pukul 16:00 saya tiba di Bandara Soekarno Hatta turun dari pesawat ANA (NH855) dan sudah disambut oleh kakak. Seperti baru bangun dari mimpi setelah berada di Jakarta meraskan udara yang sangat panas. Bukan lagi dinginnya Jepang. Satu minggu memang waktu yang sebentar. Tetapi, Nihon wa watashi ni omoshiroi koto o oshiete kuremashita. “Jepang telah memberiku hal-hal yang menarik” Selama satu minggu menikmati suhu dinginnya Jepang, tidak mengurangi rasa syukurku pada Yang Maha Kuasa. Atas IzinNya, dan doa orang tualah yang membersamai hasil prestasi belajarku hingga bisa merasakan musim dingin disana. Salju sudah kujumpai, tapi belum kujumpai Indah mekarnya bunga Sakura. Semoga berkesempatan lagi berkunjung ke Jepang di Musim semi dan mengagumi momiji di musim gugur. ^_^

Sunday, 16 November 2014

Perjalanan Menuju Seifu





Tanggal 6 November 2014, saya Ketua Program Study Pendidikan Bahasa Jepang bersama Dekan, Pembantu Dekan Bidang Akademik dan Pembantu Dekan Bidang Umum dan Keuangan, bertolak ke Osaka Jepang untuk memenuhi undangan dari Seifu Institute of Information Technology (Seifu Gakuin). Kami berempat berangkat ke sana untuk mendiskusikan MoU (Memorandum of Understanding) dan MoA (Memorandum of Agreement), setelah sebelumnya kepala sekolah Seifu Gakuin mendatangi Universitas Negeri Semarang sebanyak dua kali.
Kedatangan kami disambut mulai di bandara Kansai pagi hari sekitar pukul 8.30 waktu setempat lalu dalam perjalanan menuju Seifu kami dibawa mampir ke Osaka-Jo (benteng Osaka). Di sana kami menikmati pemandangan pohon-pohon yang daunnya mulai berubah menjadi kuning dan merah.
Kami tiba di kampus Seifu, di sana guru-guru dan staf serta beberapa orang pelajar sudah berjejer dengan spanduk dan bendera Jepang-Indonesia, sungguh sebuah sambutan yang meriah. Pihak Seifu membungkuk dengan wajah berseri menyambut kami dan pihak Unnes menyalami mereka satu persatu. Hal ini menjadi sebuah peristiwa pembauran dua budaya yang berbeda. 
Di bandara disambut kepala sekolah dan istri


Kami masuk ke dalam kampus dan setiap bertemu staf atau pelajar selalu mendapat anggukan hormat dan salam "otsukaresamadesu" yaitu salam yang biasa diucapkan untuk menghargai jerih payah orang lain dalam bekerja. Kami masuk di ruang direktur, sebelum masuk saya disambut istri direktur yang mengatakan "Maaf anak saya merepotkan Anda". Hal ini beliau ucapkan karena sebelum kunjungan ini, anaknya yaitu kepala sekolah Seifu, datang ke Unnes dan sayalah yang mengurus semuanya. Saya jawab "Sayalah yang banyak merepotkan selama ini", saya pertama kali mengunjungi Seifu bulan Januari dan merepotkan pihak Seifu. Saya mendapat perlakuan yang sangat istimewa, kalau mau oleh-olehnya masih ada, silakan klik ini.
Singkat cerita, kami langsung diskusi mengenai poin-poin kerja sama yang akan kami jalin antara Prodi Pendidikan Bahasa Jepang FBS Unnes dengan Seifu Gakuin. Kami berdiskusi cukup alot sampat tidak terasa waktu sudah sangat sore dan menurut jadwal harusnya kami masuk pada acara diskusi dengan pelajar Indonesia yang sekolah di situ. Diskusi kerjasama kami hentikan dan setelah kami ijin menggunakan tempat tersebut untuk shalat, saya dan pejabat dekanat shalat berjamaah dzuhur dan ashar dijama. Setelah selesai shalat kami menemui para pelajar yang sudah menunggu lama karena waktu diskusi untuk membicarakan MoA mulur. Kami cuma mendapat kesempatan berbincang dengan mereka beberapa menit saja karena harus sudah meninggalkan kampus Seifu untuk menuju tepat makan malam. Masih banyak yang ingin kami tanyakan mengenai bagaimana sekolah di sana karena ini penting sehubungan mulai tahun depan (2015) pihak kami akan mengirim maksimal 4 orang mahasiswa yang akan belajar di sana.
Kami dibawa ke sebuah restoran yang ternyata restoran tersebut sudah berdiri sejak lama. Model bangunannya pun masih model bangunan Jepang jaman perang dunia II. Di sana masih ada sebuah ruang yang dulunya sebagai gudang penyimpanan. Kalau Anda pernah lihat film Memoar of Geisha adegan penyimpanan kimono, seperti itulah gudang pada restoran ini.
Di sana kami mendapat hidangan mewah sushi, sashimi, dan shabushabu. Direktur dan istri serta beberapa guru ikut hadir, dan setelah direktur memberikan sambutan kami melakukan kanpai lalu mulai makan.


Setelah makan, kami menuju tempat menginap untuk istirahat.
Pagi harinya setelah sarapan kami dijemput sekitar pukul 6.30 untuk kembali menuju Seifu untuk melanjutkan pembicaraan MoA. Dalam perjalanan kami mampir ke SMP-SMA Seifu yang merupakan salah satu sekolah lain yang dikelola oleh keluarga Hiraoka pemilik Seifu. Kami menyaksikan do'a pagi dan melihat-lihat fasilitas yang ada lalu diakhiri dengan diskusi dengan kepala sekolah dan direktur sekolah tersebut. Cuma sebentar kami di sana, lalu melanjutkan perjalanan menuju Seifu. Kami melanjutkan diskusi yang tertunda kemarinnya. Hari ini pun diskusi masih alot dan alhamdulillah akhirnya pada saatnya jam makan siang MoU dan MoA pun ditandatangani kedua belah pihak.

Dari kiri: Prof. Dr. Agus Nuryatin (dekan FBS Unnes),
Dr. Tatsuto Hiraoka (Direktur Seifu), Prof. Dr. Norito Hiraoka (Kepala Sekolah Seifu)
Setelah selesai acara penandatangan MoU dan MoA, kami makan siang dan belanja oleh-oleh sedikit di Dotonbori lalu pulang ke hotel.
Keesokan harinya kami mendapat bonus wisata ke Koyasan. Di sana cuaca sangat dingin (sekitar 12 derajat) tapi pohon-pohon yang daunnya memerah sangat indah sekali.
Setelah seharian menikmati Koyasan dan mengelilingi Oku no In, keesokan paginya senin 10 November kami pulang ke tanah air membawa berita gembira untuk mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang. Mulai tahun 2015 akan ada beasiswa untuk belajar selama satu tahun di Osaka dan bahkan bisa PPL (praktek mengajar) di salah satu SMA Seifu.

Ai Sumirah Setiawati