Showing posts with label Kemahasiswaan. Show all posts
Showing posts with label Kemahasiswaan. Show all posts

Sunday, 25 August 2019

Menjadi Juara pada Japanese Experience Contest tidak Menghentikan Mimpi Fajar Ramdhani untuk Terus Berprestasi


"Ketika pengumuman hasil, pertama kali nomor peserta saya dipanggil "zero nana ban" (peserta nomor 07)
Deg. Serius? Dalam hati
"Eee. Fajyaru Ramudanii dono"
Dono? Eh? Ya saya maju, diberikan piagam dan "bukti" untuk pergi ke Jepang sebagai hadiah"
Sepenggal kesan lucu dari Fajar Ramdhani yang telah memenangi Japanese Experience Contest atau Kyouritsu Japan Taiken Contest. Dia tidak menyangka bahwa namanya akan dipanggil pertama oleh panitia sebagai salah satu pemenang kontes ini. 

Thursday, 22 November 2018

"Kaiwakai" Melatih Kemampuan Wicara dengan Native Speaker

Kaiwakai November 2018 PBJ UNNES
Ohayou..
Kali ini kita akan membahas salah satu kegiatan luar prodi alias tidak masuk didalam sks perkuliahan yaitu Kaiwakai.

Kaiwa sendiri adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti percakapan atau pembicaraan dalam bahasa Indonesia (sumber * kamuslengkap). Kaiwakai sendiri diadakan dalam rangka membantu para mahasiswa untuk berbicara dalam bahasa Jepang sekaligus mempraktekan hasil pengajaran di kelas secara langsung. Sebagai lawan bicara kami mengundang Japanese native speaker langsung dari Nihon Partners.

Dalam kesempatan ini terdapat 3 orang Nihon Partners yang hadir di acara kaiwakai, mereka sendiri di Jepang adalah mahasiswa tingkat 4 di Universitas masing2x. Ada yang berasal dari Aomori, Osaka dan Kanagawa. Dalam prakteknya, peserta dibagi kedalam 3 kelompok besar.

Topik dari kaiwakai kali ini adalah sistem pendidikan atau perkuliahan di Jepang, walaupun topiknya spesifik, namun dalam pelaksanaannya mengalir lancar, dari hal pendidikan di Jepang, musim di Jepang, kota asal para Nihon Partners, apa yang disuka di Indonesia dan di Jepang, dsb. Pada awalnya masih terkesan kaku, namun seiring waktu semuanya mencair dan percakapan mulai mengalir. Di akhir acara juga kita main sedikit game yang membuat suasana semakin akrab dan semua semakin ngeblend.



Tentu saja diakhiri sesi foto foto :). Nihon Partners pun mengapresiasi acara ini dengan baik, dan bersedia jika lain kali diadakan acara serupa..
Arigatou gozaimashita




Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang

Monday, 15 October 2018

Sherafina Mewakili Prodi PBJ dalam Program Beasiswa ke Jepang bagi Pelajar Islam

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Halo sahabat PBJ.
Kali ini kita akan bergabi pengalaman dari Sherafina mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES yang lolos seleksi beasiswa  IFSEE bagi pelajar Islam untuk mengenal Islam di Jepang.
Selamat menyimak


Alhamdulilah, pada September bulan lalu tepatnya pada tanggal 17-21 saya, Sherafina Juniva Nareswari mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES,  mendapatkan kesempatan mengunjungi Tokyo, Jepang sebagai salah satu delegasi program beasiswa bagi pelajar islam untuk belajar mengenai islam dari suatu lembaga swasta yaitu IFSEE setelah mengikuti serangkaian seleksi yang ada. Informasi tersebut saya dapat dari media sosial yaitu instagram.

Monday, 30 July 2018

Saresehan dengan Guru Pamong, Prodi PBJ UNNES Samakan Persepsi Pembimbingan Mahasiswa PPL

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Hari Sabtu 28 Juli 2018 lalu Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang (Prodi PBJ) Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengundang para guru pamong (gumong) yang menjadi pembimbing pamong mahasiswa yang melaksankan Program Pengenalan Lapangan (PPL) di sekolah mitra. Selain sebagai ajang silaturahmi, acara ini diselenggarakan untuk menyamakan persepsi tentang cara pembimbingan mahasiswa. Selain itu, dibahas pula kendala-kendala yang dialami selama penyelenggaraan PPL yang dialami baik oleh pihak sekolah, mahasiswa, maupun dosen pembimbing sebagai informasi kepada mitra sekolah yang sebagian besar baru dijadikan sekolah mitra PPL pada tahun ini.

Wednesday, 11 July 2018

Mengenal Posutaa Happyoo di Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES


Oleh: Yuyun Rosliyah



Posutaa Happyoo atau  poster presentation adalah sebuah istilah yang dipinjam dari kata poster dan happyou 'presentasi'. Presentasi poster ini terinspirasi dari salah satu kegiatan workshop yang dilaksanakan oleh AGBJI (Asosiasi Guru Bahasa Jepang Indonesia). Presentasi poster yang diterapkan pada mahasiswa semester enam yang telah mengikuti semua mata kuliah kependidikan ini merupakan presentasi poster yang pertama kali dilaksanakan, sebagai produk tugas akhir mahasiswa semester enam pada mata kuliah Micro Teaching. Presentasi memanfaatkan X-Banner untuk menjabarkan RPP (Rencana Program Pengajaran) dengan  menerapkan JF Standard, JF Can-do Level A1.

Presentasi Poster! Menjadi Salah Satu Kegiatan Ilmiah Mahasiswa Unggulan di Prodi Pendidikan Bahasa Jepang

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Penerapan Kurikulum 2013 menjadi sebuah keharusan dalam pengajaran di setiap lini bidang studi, termasuk pengajaran bahasa Jepang. Sebagai salah satu upaya Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang dalam memberi pemahaman dan keterampilan mengajar mahasiswa, hari ini Rabu 11 Juli 2018 telah diadakan kegiatan Postaa Happyoo (presentasi poster).

Sunday, 25 March 2018

SETENGAH HARI JADI TOUR GUIDE BERSAMA PEACEBOAT



Empat belas mahasiswa berkesempatan naik kapal Peace Boat
Hari Sabtu, 24 Maret 2018 empat belas orang mahasiswa angkatan 2014 Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang berkesempatan ikut serta dalam penyambutan kurang lebih 20 orang wisatawan dari Jepang yang di fasilitasi oleh Peace Boat. 

Wednesday, 28 February 2018

DOSEN DAN MAHASISWA PBJ UNNES LOLOS LAGI SELEKSI KE JEPANG




Bersama seluruh peserta lolos seluruh Indonesia
Program Southeast Asian Teachers Training in Japan oleh The Japan Foundation telah kembali terlaksana sejak 10 Januari dan berakhir pada tanggal 24 Februari 2018. Setelah tahun sebelumnya Universitas Negeri Semarang berhasil lolos dengan perwakilan satu dosen dan satu mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Tahun ini, Unnes juga kembali meraih prestasi di program tersebut dengan lolosnya dosen (Yuyun Rosliyah S. Pd.) dan mahasiswa (Jundi Nidaaul Fath, angkatan tahun 2014). Seperti tahun sebelumnya, awalnya seluruh peserta yang ada diharuskan untuk menulis esai dengan menggunakan bahasa Jepang untuk di seleksi oleh pihak The Japan Foundation.

Monday, 10 July 2017

Kuliah di PBJ UNNES Memang Asik Bisa Magang di Jepang

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang


 
Peserta internship dilepas oleh Dekan FBS (foto:fbs.unnes.ac.id)

Senin, 10 Juli 2017, lima orang mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang berangkat menuju Wakayama Jepang. Mereka adalah Dini Nurhandini, Eva Wulansari, Indra Adhi B., Setyo Angga, dan Wening Indriyati. Semua mahasiswa ini akan mengikuti program magang di Jepang selama satu tahun.

Friday, 6 January 2017

LOLOS SELEKSI, DOSEN DAN MAHASISWA PBJ UNNES BERTOLAK KE JEPANG






Berbagai prestasi telah diraih Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang, salah satunya adalah dengan lolosnya dosen (Ai Sumirah Setiawati, S. Pd., M. Pd.) dan mahasiswa (Ayu Larasati, angkatan tahun 2013) dalam seleksi program "Southeast Asian Teachers' Training College Course" yang diadakan oleh The Japan Foundation di Osaka Jepang. Program ini merupakan program pelatihan bagi pengajar bahasa Jepang dan mahasiswa yang bahasa Jepang yang bercita-cita ingin menjadi pengajar bahasa Jepang. Seleksi ini meliputi beberapa tahap yaitu administrasi dan kesehatan. Sebagai syarat administrasi calon peserta dosen harus memiliki kemampuan (dibuktikan dengan sertifikat) bahasa Jepang N2 atau N1 yang merupakan level tertinggi dalam kemampuan berbahasa Jepang. Sementara untuk mahasiswa hanya disyaratkan minimal N3. Selain itu, baik dosen maupun mahasiswa harus membuat essay dalam bahasa Jepang tentang masalah pendidikan bahasa Jepang dan rencana pemecahan masalahnya jika mengikuti program ini.
Program yang akan berlangsung selama 45 hari mulai tanggal 5 januari sampai dengan 18 Februari ini meliputi materi bahasa Jepang, metode pengajarannya dan pengenalan budaya.  Meskipun mengikuti program yang sama, isi pelatihan untuk mahasiswa dibedakan dengan isi pelatihan untuk dosen. Menurut informasi dari peserta, materi pelatihan untuk mahasiswa secara gasris besar terdiri dari bahasa Jepang, pengenalan dan pemahaman budaya Jepang, pidato, interviu dengan penduduk setempat, Japanese variety (IT, home visit ke rumah orang Jepang, fieldwork ke Kyoto dan Nara dll), dan yang terakhir adalah materi metode pengajaran Bahasa Jepang. Sedikit berbeda dengan program untuk mahasiswa, materi pelatihan bagi dosen lebih banyak tentang metode pengajaran bahasa Jepang seperti bagaimana menjadikan suatu material mentah misalnya struk pembelian di supermarket menjadi sebuah materi bahasa Jepang yang baik. Meskipun demikian, para dosen pun mendapat kesempatan bersama dengan mahasiswa dalam hal Japanese variety tetapi dengan kemasan yang sedikit berbeda.
Semoga setelah mengikuti pelatihan ini baik dosen maupun mahasiswa bisa mempraktekkan ilmunya di Prodi Pendidikan Bahasa Jepang sehingga prodi ini semakin berkembang lebih baik dalam hal kualitasnya.

Thursday, 25 February 2016

KUNJUNGAN PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA



Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes - UMY


            Kamis, 25 Februari 2016, tepat pukul 09.00, Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sampai di gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. 

            “Senangnyaa,..
Hari ini, Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes kedatangan tamu dari Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UMY…”

Kurang lebih begitulah sederet kalimat yang terucap di dalam hati. Ada sekitar 125 mahasiswa dan 5 dosen dari Prodi PBJ (Pendidikan Bahasa Jepang) UMY. Rasanya menyenangkan sekali bisa menyambut saudara seperjuangan dalam menuntut ilmu bahasa Jepang. Sebelum acara benar-benar dimulai, ASAHI (Apresiasi Mahasiswa dalam Himpunan) Band pendidikan bahasa jepang Unnes mempersembahkan dua buah lagu jepang juga persembahan Tari Semarangan dari 3 orang mahasiswi PBJ Unnes angkatan 2014 (Gilang Aldilla, Irma Anggun, dan Dwi Vivi Elvandari). Setelah itu dilanjut pembukaan oleh MC (Fhiyan Arrisman-PBJ 2013 dan Jundi Nidaaul F-PBJ 2014), kemudian sambutan dari Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Asing (Ibu Sri Rejeki Urip), selanjutnya oleh  Koordinator Prodi PBJ Unnes (Silvia Nurhayati Sensei), dan oleh Kaprodi PBJ UMY (Sonda Sanjaya Sensei). Sambutan tersebut sekaligus menyambung presentasi dari tiap program studi kedua universitas. Setelah sudah saling mengenal bentuk pengajaran bahasa jepang di masing-masing universitas, seluruh peserta diberikan hak untuk bertanya. Kesimpulan dari presentasi keduanya adalah sama, yaitu ingin mencetak pengajar atau ahli bahasa jepang berkompeten yang mampu bersaing dengan zaman.
Sambutan
 
Kaprodi PBJ Unnes (Silvia Nurhayati Sensei) dengan Kaprodi PBJ UMY (Sonda Sanjaya Sensei)

Asahi dan Nikigakka

Jalan-jalan keliling FBS

Masing-masing dari pihak himpunan mahasiswa PBJ Unnes (ASAHI) dan PBJ UMY (NIKIGAKKA) juga saling mempresentasikan tentang himpunan masing-masing. Keduanya berharap bisa bekerja sama dalam hal pencapaian prestasi akademik dan organisasi, suatu saat nanti. Selanjutnya adalah acara hiburan, PBJ Unnes menampilkan Tari Yosakoi dengan lihai dan semangat. Sedangkan saat itu, dari pihak UMY mempersembahkan tari modern yang sangat mengejutkan. Persembahan dari mereka benar-benar memukau dan mampu memecah teriakan kagum seisi gedung B6.
Di penghujung acara, ada persembahan spesial dari Ketua Asahi 2016 (Shafrina Ully-PBJ 2014) dan beberapa anggota Asahi lain, yaitu sebuah lagu dari Motohiro Hata-Himawari No Yakusoku. Lagu tersebut seolah-olah mewakili perasaan seluruh peserta, mengingat saat itu sudah sampai di acara terakhir bersama dengan kawan-kawan PBJ UMY. Kemudian setelah penutupan oleh MC dan sesi foto bersama, para pengurus Asahi mengajak 130 mahasiswa PBJ UMY berkeliling sekitar Fakultas Bahasa dan Seni. Tentu saja, jika di ingat-ingat banyak tingkah kocak yang membuat rindu.
 
Potret sekilas acara

Tuesday, 12 May 2015

PPL di Jepang? Why Not?

Dekan FBS menyerahkan beasiswa

Senin 11 Mei 2015, dekan Fakulatas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang. Beasiswa tersembut adalah untuk membantu mahasiswa yang akan mengikuti program Joint Degree di Seifu Institute of Technology Osaka Jepang selama satu tahun.
Selain ketiga mahasiswa tersebut, ada dua orang mahasiswa yang akan mengikuti program ini dengan biaya sendiri. Di Osaka mereka akan belajar bahasa dan budaya Jepang. Selain itu, mereka juga akan melakukan praktek mengajar (Program Pengalaman Lapangan) di salah satu SMP atau SMA yang berada dalam manajemen Seifu grup.
Dekan FBS mengungkapkan bahwa program ini sebagai salah satu wujud upaya Unnes menuju universitas bertaraf internasional. 
Depan kiri ke kanan: Nabella, Sulistya Winanti, Gilau Aulia, Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum., Renita Putri, Firdaus Haris R., Ai Sumirah Setiawati, Drs. Agus Yuwono, M. Si (PD1)
Belakang kiri ke kanan: Dr. Zaim El Mubarok, M. Ag. (Kajur BSA), Dr. Abdurrahman Faridi, M. Hum (PD2), Drs. Syahrul Syah Sinaga, M. Hum. (PD3)

Tuesday, 24 February 2015

Dia Ingat Kuliah di Saat-saat Terakhirnya

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Hari ini keluarga besar Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang telah kehilangan salah satu anggota keluarga. Namanya Kartika Hernita. Mahasiswa angkatan 2013.

Pagi 24 Februari 2015, saya mendapat kabar duka. Kartika Hernita telah meninggalkan kita untuk selamanya pada hari ini pukul 01.00 dini hari. Siangnya sekitar pukul 11 saya bersama dua teman dosen, pembantu dekan bidang kemahasiswaan, ketua hima, dan beberapa orang mahasiswa pergi ke Pemalang untuk takziah. Tidak susah mencari alamat almarhumah. Setibanya di rumah yang pertama menyambut adalah kakaknya yang awalnya seperti kebingungan karena tidak mengenal kami. Setelah saya memperkenalkan diri bahwa kami dari Unnes, dia memberi tahu anggota keluarga lainnya setengah mau menangis. Orang berikutnya yang menyambut kami adalah ibu almarhumah yang langsung menangis sambil memintakan maaf apabila almarhumah pernah berbuat kesalahan. Saya hanya bisa ikut menangis sambil memeluk beliau meskipun saya tahu bahwa itu tidak bisa mengurangi rasa dukanya.
Setelah semua bersalaman dan duduk, kemudian ayahanda almarhumah menceritakan kronologi sejak hari sabtu alhmarhumah dibawa ke rumah sakit, lalu kondisinya memburuk sampai akhirnya meninggalkan dunia ini. Dalam ceritanya ayahanda Kartika mengatakan bahwa beliau tidak percaya telah kehilangan anak perempuan satu-satunya. Beliau membayangakan kalau punya anak perempuan itu melewati proses sekolah, menjadi remaja, kuliah, punya pacar, diwisuda, menikah, lalu punya cucu. Belia bercerita dengan wajah senyuman yang menurut saya adalah senyuman pahit.
Ketika pamit pulang ibunda alhmarhumah sambil menangis meminta maaf lagi untuk anaknya. Kali ini meskipun ikut menangis saya mampu mengeluarkan kata-kata bahwa kami juga kehilangan dan kami mohon maaf jika pernah berbuat salah kepada Kartika. Dalam dialog sambil pamitan itu ibunya mencengkram pangkal lengan saya kuat sekali sambil agak mengguncang-guncang badan saya beliau bercerita bahwa ketika masih di rumah sakit almarhumah meminta pulang karena ingin berkemas mengingat beberapa hari lagi sudah harus kembali ke kampus. Kata hati saya, bahkan ketika meregang nyawa pun dia masih semangat untuk kuliah. Padahal dia sudah sejak pertengahan semester satu tidak masuk kuliah karena sering sakit.
Saya membayangkan ketika Kartika tidak masuk kuliah selama ini pasti dia sangat merindukan kegiatan belajarnya di Unnes. Hal ini terbukti dengan kata-kata yang dikeluarkannya di saat terakhirnya.
Dalam kesempatan ini melalui media ini saya ingin menyampaikan amanat dari keluarga Kartika, siapapun yang mengenal dan pernah bergaul dengannya, mereka mohon jika Kartika pernah berbuat kesalahan mohon dimaafkan.
Kartika Hernita, semoga arwahmu diterima di sisi Allah. Semoga amal ibadahmu diterima-Nya dan mendapat balasan surga-Nya. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan yang pernah ada baik disengaja maupun tidak. Semoga semangatmu menuntu ilmu selalu hadir dalam setiap diri teman-teman, kakak kelas, dan adik kelasmu dan kami guru-gurumu.
Amin ya robbal alamin…..

Wednesday, 11 February 2015

BANGGA BERJAS KUNING

Dany Buyung Yudha Prasetya

Memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia


Brrr..dingin banget”, itulah kalimat pertama yang dikatakan teman-teman rombongan program Jenesys Indonesia ketika keluar dari bandara Narita. Disambut suhu udara yang mencapai 3 derajat celcius kami menuju kota Chiba dengan menggunakan bus yang telah disediakan panitia JICE (Japan International Cooperation center).
Sesampainya di Chiba kami langsung mengikuti kegiatan orientasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kedubes Jepang, Kedubes Indonesia dan Presiden Direktur JICE.  Keesokan harinya dilanjutkan dengan jalan-jalan di Asakusa Nakamise (shoping street), dan dilanjutkan dengan kelas Bahasa Jepang di kantor JICE selama 5 jam.
Ketika jam bebas, saya mencoba keliling kota Tokyo dengan menggunakan kereta. Walaupun sudah membawa rute peta stasiun, tetapi akhirnya tetap bingung juga. Sistim transportasi di Jepang benar-benar rapi, dengan tersedianya informasi di stasiun maupun halte bus yang dapat memudahkan pengguna transportasi untuk menggunakanya. Serta petugas yang siap membantu ketika kita membutuhkan bantuan, dan tersedianya fasilitas khusus untuk orang yang berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda.
Tak terlihat sampah yang berserakan di jalan. Macet dan bunyi klakson kendaraan bermotor pun hampir tidak ada. Tak sedikit orang yang berlalu lintas menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat di sepanjang jalan terdapat jalan yang bergerigi, dengan bentuk bulat maupun memanjang dan berwarna merah maupun kuning, untuk apakah kegunaannya? Ketika melihat seseorang tunanetra yang berjalan menggunakan tongkat, saya baru sadar ternyata  tanda jalan itu disediakan untuk penyandang tunanetra yang bisa menuntunnya hingga ketempat yang dituju.
Hari ketiga rombongan kami menuju prefektur Yamanashi, tepatnya di kota Kofu. Kota Kofu adalah kota yang menjadi pusat pemerintahan salah satu Samurai legendaris Jepang, yaitu Takeda Shingen. Disana kami mengunjungi universitas Yamanashi Gakuin dan SMA Kofu Daiichi dan tempat pembudidayaan strawberry. Disana kami diajarkan bagaimana cara membudidayakan strawberry dan sekaligus memetik langsung strawberry dari pohonnya. Wow, strawberrynya berbeda dengan jenis strawberry yang pernah saya makan, besar sekali.
Ketika di Universitas Yamanashi Gakuin kebetulan saya ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengucapkan kata sambutan. Yang sangat berkesan bagi saya adalah dapat berbagi pengetahuan tentang beladiri Jepang kepada Mahasiswa club Judo universitas Yamanashi Gakuin. Ketika di SMA Kofu Daiichi pun saya mendapatkan kesempatan ditunjuk sebagai MC di acara ramah tamah sekaligus pengenalan budaya Indonesia selama 3 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan dengan pengenalan ekstra kurikuler sekolah meliputi menulis kaligrafi (Shodo), Upacara Minum teh (Shado) dan pertunjukan acapela dari Siswa Kofu Daiichi. 

Bersama host family

Setelah itu kami dipertemukan dengan keluarga homestay masing masing, saya sempat shock karena tidak ada anak perempuan seumuran di keluarga homestay saya hahaha. Selama di rumah keluarga homestay, kami saling berdiskusi banyak hal mengenai budaya, sejarah maupun isu-isu agama yang sedang hangat terjadi. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat menambah wawasan saya. Saat-saat perpisahan dengan keluarga homestay pun, saya sempat menangis karena tak kuasa menahan haru untuk berpisah. Kebaikan mereka akan selalu saya kenang, dan juga kenangan bersama salah seorang siswa SMA Kofu Daiichi.

Thursday, 5 February 2015

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN

ASSALAAMU’ALAIKUM JAPAN
Oleh Farikhatul Jannah

Setetes air mata bahagia dan senyum saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional Haneda Tokyo Jepang pada Senin, 20 Januari 2015. “Assalaamu’alaikum Japan..” kuucapkan setelah turun dari pesawat ANA (NH 856) sembari menghirup udara pagi sejuk nan bersih, serta ucapan rasa syukur pada Rabbku yang telah mengizinkan saya bisa merasakan dinginnya musim fuyu di Jepang.

Menjadi salah satu orang yang beruntung dari Indonesia dalam program Nihongo Taiken Ryokou selama satu minggu adalah buah manis dari kontes yang pernah saya ikuti 27 September 2014 lalu. Terima kasih Kyouritsu International Foundation sebagai pihak penyelenggaranya yang telah mengantarkan kelima pemenang dari Indonesia menuju negara impian.

Sakura di musim Salju dengan latar belakang Tokyo Sky Tree
 

Hari pertama berada di Jepang merasakan atmosfer culture shock, melihat orang Jepang yang begitu disiplin akan waktu. Kebiasaan berjalan kaki setelah turun dari kereta menuju tempat tujuan kurasakan juga sebagaimana orang Jepang pada umumnya. Semua terlihat rapih. Saat berjalan, di Tokyo memiliki aturan bagi pejalan kaki untuk berjalan disebelah kiri sedangkan sebelah kanan hanya untuk orang yang mendahului karena terburu-buru. Berbeda terbalik jika berada di Osaka.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Kyouritsu International Foundation. Bersama pemenang lainnya dari Vietnam, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Indonesia tentunya mengikuti pembukaan program Nihongo Taiken Ryokou. Saat pembukaan, kami masing-masing dari setiap negara memberikan sambutan dan memberikan kesan pertama saat tiba di Jepang. Selanjutnya, kami rombongan dari Indonesia mengunjungi Kedutaan Besar Indonesia yang berada di Shinagawa,Tokyo. Malam harinya, kami makan bersama dengan pihak management Kyouritsu. Saat makan, biasa saya dan dua orang muslim dari Indonesia pilih-pilih makanan yang halal, tidak sebebas mereka yang bisa memakan apapun yang dihidangkan di meja makan.

Hari kedua saya berkunjung ke salah satu Kuil bernama Kanda Myoujin masih berada di Tokyo. Sebelum memasuki kuil, sama halnya dengan orang muslim yang melakukan ritual seperti wudhu. Bedanya, disini hanya membasuh kedua tangan dan berkumur. Memasuki kuil ini kujadikan sebagai salah satu pembelajaran kebudayaan Jepang. Setelah itu,mengunjungi Universitas Meiji yang letaknya tidak begitu jauh dari kuil Kanda Myoujin. Melihat betapa megahnya universitas ini, terlintas angan untuk bisa melanjutkan sekolah disini. Hehehe mimpi boleh kan yaa, gratis ko. Kunjungan pada hari itu, tidak selesai sampai di Universitas Meiji saja, berlanjut menuju Kyoritsu Foundation Japanese School. Di sana saya, dan semua kontestan dari kelima negara mengikuti perkuliahan di sekolah itu.

Hari sudah terlihat gelap, Padahal masih jam 5 sore waktu itu. Karena musim dingin, Jepang lebih cepat berganti malam. Badan dan kaki sudah mulai pegal-pegal. Tapi, tak begitu terasa karena menikmati perjalanan sore hari ditemani hujan salju. Selanjutnya, tempat terakhir yang dikunjungi untuk hari itu adalah Studio Foto khusus untuk pemakaian kimono. Yeah, akhirnya pakai kimono juga ^_^ . kalau Yukata mah sudah biasa pakai di kampus saat acara-acara tertentu, lebih simple. Kimono bahannya berbeda, obinya juga lebih lebar. Setelah selesai action dihadapan kamera, tibalah waktunya untuk kembali ke hotel Dormy Inn.

Hanya beberapa menit istirahat untuk melakukan ibadah sholat, saya kembali keluar. Terlanjur membuat janji dengan teman Jepangku Asuka Tachizaki namanya. Dia pernah belajar Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang. Sudah menjadi teman baik, kami bela-belakan untuk bertemu di negara kelahirannya. Hari kedua aktivitas full, ditutup dengan makan malam bersama Asuka dan melihat lebih dekat indahnya Tokyo Sky Tree di malam hari.

Bertemu Asuka San :)
 

Hari ketiga berada di Asakusa, belum kujumpai lebatnya salju. Sempat turun butiran-butiran salju lembut dari langit, membuatku ingin menangkap setiap butiran-butirannya. Namun salju itu selalu saja segera mencair. Beginilah keadaanya, Meskipun tak ada tumpukkan salju di kota ini, udara masih tetap dingin kurasakan. Dari hotel Dormy Inn Asakusa tempatku menginap, pagi harinya kami pindah hotel ke Ko no ha yang ada di Gunma. Perjalanan sekitar 4 jam menggunakan Bus. Setelah tiba disana, subhanallah...

Ciptaan Tuhan yang indah, seindah yang memandangnya hehehe. bisa kulihat hamparan putih salju itu sesuatu banget. Bahkan bisa memegang dan memakannya seperti kakigori (es serut ala Jepang yang biasa diminum saat musim panas). Ya, di tempat Kusatsu International Ski ini memang untuk kami rasakan pengalaman bermain Snowshoe dan Ski bersama teman-teman kelima negara ASEAN ku. Meskipun Snowshoe hanya berjalan kaki menyusuri hutan bersalju, tidak mudah juga ternyata. Terasa agak berat berjalan dengan sepatu khusus untuk Snowshoe ini.

Esok harinya barulah saya mencoba Ski. Waaw... pelatihnya sabar deh ngelatih kita-kita yang baru pertama kali bermain ski. Sesekali saya jatuh, susah untuk bangun :D. Tapi,saat berulang kali berlatih akhirnya bisa juga meluncur dari ketinggian yang engga tinggi-tinggi amat sih,, hehehe. Merasakan dinginnya salju di tempat Ski, pulang ke hotel selalu dimanjakan dengan Onsen (tempat berendam air panas). Untunglah hotel ini, menyediakan private onsen room, kalau tidak ada... mungkin saya takkan pernah bisa merasakannya. Karena onsen pada umumnya itu tempat “pemandian bersama” untuk mandi berendam air panas. Meskipun Pemandian air panas disediakan terpisah untuk pria dan wanita. Tetap saja, yang wanita ya nyampur semua. Malu ah, hehehe. Oh ya, hotel ini bentuknya Ryokan. Jadi, sejenis Japanese hotel gitu. Penginapan dengan fasilitas dan bangunan berarsitektur Jepang ini, menyediakan kamar bergaya Jepang yang berlantaikan tatami. Tidurnyapun menggunakan futon.

Hari berikutnya kami kembali menuju Dormy inn Asakusa. Sebelumnya, mampir terlebih dahulu ke Karuizawa Outlet. Semacam tempat berbelanja dan pusat oleh-oleh. Sampai di hotel sekitar jam 5 sore hari. Sore itu juga, setelah menaruh barang-barang di kamar, kami langsung menuju Sky Tree. Dari stasiun Asakusa, hanya satu stasiun saja dilewati langsung sampai ke tempat tujuan. Sebelumnya, saya dan Asuka Tachizaki sudah pernah melihat lebih dekat Sky Tree di malam hari. Tetapi kali ini, saya mencoba menaiki “Pohon Langit Tokyo” itu untuk melihat keindahan kota Tokyo dari ketinggian 634 meter di waktu senja. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan.

Esok harinya, Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu karena ada jadwal kegitan bebas. Kumanfaatkan waktu itu untuk bertemu seniorku yang sudah lulus dari UNNES yang sekarang sedang melanjutkan studi di Jepang. Mba Dyah namanya. Wanita cantik yang mengajariku banyak hal tentang menjadi muslim yang tinggal di Jepang. Mengajariku bagaimana pintar-pintarnya mengambil waktu dan tempat sholat di tempat umum, termasuk mengajariku saat memilih makanan yang halal. Ini penting, karena hampir semua makanan yang ada disini menggunakan daging babi.

Saya dan Mba Dyah berkeliling di Asakusa, melihat-lihat bangunan jinja (kuil) yang tempatnya tidak begitu jauh dari hotel. Setelah itu, langsung menuju ke Shibuya. Waah.. Shibuya jauh lebih ramai dibanding Asakusa. Kotanya anak muda banget disini. Tau patung anjing Hachiko? Saya bekesempatan bisa foto disamping patung itu. Kami berkeliling di Shibuya, makan siang dengan harga murah dan halal itu menyenangkan. Dilanjut, berbelanja baju,ke Donki Hote pusat oleh-oleh, dan Hyaku en Shop. Waktu cepat berlalu. 6 jam bersama Mba Dyah rasanya kurang dan masih ingin melihat-lihat yang lainnya tanpa sadar meski kaki sebenarnya sudah terasa pegal-pegal.

 
bersama Mbak Dyah (alumni PBJ UNNES yang sedang studi di Tokyo

Tanggal 26 Januari, sudah waktunya kembali ke negara asal. Huhuhu, berat rasanya. Berat meninggalkan negara indah ini, dan juga berat membawa barang bawaan yang semakin bertambah, hehehe. Alhamdulillah tepat pukul 16:00 saya tiba di Bandara Soekarno Hatta turun dari pesawat ANA (NH855) dan sudah disambut oleh kakak. Seperti baru bangun dari mimpi setelah berada di Jakarta meraskan udara yang sangat panas. Bukan lagi dinginnya Jepang. Satu minggu memang waktu yang sebentar. Tetapi, Nihon wa watashi ni omoshiroi koto o oshiete kuremashita. “Jepang telah memberiku hal-hal yang menarik” Selama satu minggu menikmati suhu dinginnya Jepang, tidak mengurangi rasa syukurku pada Yang Maha Kuasa. Atas IzinNya, dan doa orang tualah yang membersamai hasil prestasi belajarku hingga bisa merasakan musim dingin disana. Salju sudah kujumpai, tapi belum kujumpai Indah mekarnya bunga Sakura. Semoga berkesempatan lagi berkunjung ke Jepang di Musim semi dan mengagumi momiji di musim gugur. ^_^