Showing posts with label Nihonjijo. Show all posts
Showing posts with label Nihonjijo. Show all posts

Monday, 15 October 2018

Sherafina Mewakili Prodi PBJ dalam Program Beasiswa ke Jepang bagi Pelajar Islam

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Halo sahabat PBJ.
Kali ini kita akan bergabi pengalaman dari Sherafina mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES yang lolos seleksi beasiswa  IFSEE bagi pelajar Islam untuk mengenal Islam di Jepang.
Selamat menyimak


Alhamdulilah, pada September bulan lalu tepatnya pada tanggal 17-21 saya, Sherafina Juniva Nareswari mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES,  mendapatkan kesempatan mengunjungi Tokyo, Jepang sebagai salah satu delegasi program beasiswa bagi pelajar islam untuk belajar mengenai islam dari suatu lembaga swasta yaitu IFSEE setelah mengikuti serangkaian seleksi yang ada. Informasi tersebut saya dapat dari media sosial yaitu instagram.

Friday, 7 February 2014

Oleh-oleh Omiyagebanashi: Kegiatan Teacher Training di I-Seifu Osaka Jepang 25-31 Januari 2014

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang




Ai Sumirah Setiawati


Kegiatan Teacher Training ini diselenggarakan bagi guru-guru bahasa Jepang dengan tujuan untuk mengetahui berbagai informasi tentang sekolah di Jepang terutama dengan biaya sendiri. Selain itu, bagi guru-guru yang belum pernah pergi ke Jepang, program ini bisa juga dijadikan sarana untuk belajar budaya dan kehidupan masyarakat Jepang. Saya mengikuti program ini karena akhir-akhir ini ada minat dari mahasiswa lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang untuk belajar bahasa Jepang dengan biaya sendiri di Jepang. Bahkan sudah ada beberapa lulusan yang sekarang berada di Jepang dengan program biaya sendiri sambil arubaito.
Program ini berlangsung selama satu minggu dari tanggal 25 sampai 31 Januari 2014.Seperti tertera pada jadwal, kami berangkat pagi dari Jakarta dan tiba di Jepang Sabtu tengah malam, tapi sampai di tempat penginapan kira-kira jam 2 pagi Minggu 26 Januari 2014. Setelah istirahat, minggu pagi kami diajak jalan-jalan ke Nara. Di Nara kami mengunjungi Kashihara Jin’gu. Kashihara Jin’gu merupakan kuil yang dibangun pada tahun 1890 Masehi untuk kaisar pertama Jepang. Di kuil ini kami mendapatkan kehormatan untuk mengikuti upacara semacam pemberkatan. Upacara ini diakhiri dengan upacara minum sake (arak Jepang). Karena semua peserta program ini muslim semua, kami hanya pura-pura minum.

Kashihara Jin'gu dengan halam pasir yang ditata rapi


Jalan masuk menuju Kashihara Jin'gu             
Minum sake

Setelah mengunjungi Kashihara Jin’gu dan puas berfoto, perjalanan kami lanjutkan ke Horyuji. Horyuji merupakan salah satu candi Budha yang dibangun oleh pangeran Shotoku sekitar 1300 tahun yang lalu. Di sini kami hanya melihat-lihat peninggalan-peninggalan Budha yang diperkenalkan oleh pangeran Shotoku ke Jepang.





Setelah mengelilingi lokasi Horyuji dan membeli beberapa souvenir kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan siang yaitu salah satu restoran kaitenzushi (restoran sushi berputar). Ini merupakan pengalaman pertama bagi kami, bahkan saya yang sudah pernah ke Jepang dua kali, makan di tempat khas seperti ini.
          

    
Semua makanan berputar, kita tinggal mengambil apa yang kita inginkan. Kalau tidak ada di situ kita juga bisa memesan dengan menekan tombol pada papan digital khusus untuk pemesanan



    



Setelah makan lalu kami diperkenalkan pada sebuah komplek perumahan tua bernama Kota Imai yang ada di sekitar Nara. Di komplek perumahan ini masih berdiri kokoh sekitar 500 buah bangunan tua peninggalan awal jaman Edo.

 







            
Mengunjungi komplek kota Imai sebetulnya tidak ada dalam jadwal kegiatan tapi kepala sekolah I-Seifu berbaik hati mengajak kami berkenalan dengan situs peninggalan bersejarah yang menjadi national heritage-nya Jepang ini. Dari lokasi ini kami bergerak menuju sebuah restoran yang sudah dipesan oleh pihak Seifu. Di sana guru-gur dan staf I-Seifu sudah menunggu. Di sana kami mengikuti acara penyambutan dan pembukaan program teacher training ini. Acara dimulai dengan kanpai (mengacungkan gelas) bersama.

 
Indonesia-Jepang semoga selalu terjalin kerjasama dan persaudaraan yang hangat
Kami semua melakukan "kanpai" sebagai tanda acara penyambutan dan pembukaan kegiatan kenshu dimulai


Setelah selesai makan dan bercakap-cakap dan cukup mengakrabkan diri satu sama lain, kami pun pulang ke hostel.
Keesokan harinya, Senin 27 Januari 2014, setelah makan pagi bersama dengan kepala sekolah di hostel kami berangkat menuju SMP/SMA Seifu Gakuin. Di sana kami ikut menyaksikan apel pagi. Pada kegiatan apel pagi ini para siswa membacakan doa-doa seperti layaknya yang sering dibacakan oleh orang Budha. Sekolah ini sangat memperhatikan pendidikan moral siswanya sehingga para siswa dibiasakan untuk berdoa dan melakukan salam sebelum dan sesudah belajar. Aba-aba dan salam sebelum belajar: 1) kiritsu (berdiri), 2) ki o tsuke (siap), 3) rei (beri salam/ hormat). Pada tahapan ketiga ini baik murid maupun guru sama-sama membungkuk dan mengucapkan yoroshiku onegaishimasu (mohon bimbingannya). Ketika selesai pelajaran salam yang dilakukan hampir sama cuma pada tahapan ketiga yang diucapkan adalah “arigatou gozaimasu” (terima kasih).
     




Para siswa sedang melakukan apel pagi yang dilanjutkan membaca doa


Ada hal yang sangat berkesan dari sekolah ini yaitu cara para guru mengajarkan menulis/ mengarang dan cara menilainya. Yang kedua adalah dari sekolah ini telah lahir atlit-atlit senam tingkat olimpiade. Saya sangat terkesan karena ketika kami diberi kesempatan untuk melihat ruangan tempat para siswa berlatih. Pertama kali masuk saya menyangka kami diajak ke gudang atau bangunan yang belum selesai. Setelah mendapat penjelasan barulah saya tahu bahwa tempat minimalis dan sederhana itu adalah kawah candradimukanya para atlet senam olimpiade yang sudah memperoleh medali emas sampai perunggu.  

Selain bidang olah raga senam dan yang lainnya, di sekolah ini diajarkan juga olahraga tradisional Jepang seperti Kendo. Selain itu, untuk mendukung pelestarian alam para siswa secara berkelanjutan mengadakan penelitian untuk mengembangkan makhluk hidup yang hampir punah. Dalam hal ini contohnya adalah ikan, namanya saya lupa, tapi ikan ini merupakan jenis ikan yang langka. Benar-benar merupakan sekolah yang memiliki komitmen terhadap konservasi alam, budaya, dan akhlak. Selain itu, sekolah ini juga menyediakan fasilitas pendidikan karir bagi siswanya. Pihak sekolah sengaja mendatangkan empat orang ahli untuk melakukan wawancara terhadap para siswa.



Setelah melihat-lihat SMP/SMA Seifu Gakuin kami dibawa ke sebuah universitas bernama Otemon. Konon universitas ini tempat kuliahnya orang-orang kaya. Kalau saya lihat bangunan dan semua fasilitasnya sangat mewah. 
Di universitas Otemon ini kami mendapat materi kuliah dari kepala sekolah Seifu tentang budaya Jepang. Bukan tentang kimono atau matsuri dan yang lainnya tapi tentang konsep “kami” (Tuhan) dan “Nagasaki” (aNAta GA SAKI: Anda duluan, kebahagiaan Anda didahulukan). Nagasaki yaitu sikap orang Jepang yang selalu mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang lain. Inilah alasan mengapa ketika terjadi bencana di Jepang tidak terjadi penjarahan. Yang kedua yaitu konsep “Tuhan” dalam masyarakat Jepang. Dulu saya memahami orang Jepang banyak Tuhannya. Setiap benda mereka sembah. Setelah mendapat penjelasan waktu kegiatan training kemarin saya baru faham bahwa orang Jepang “mendewakan semua yang ada di bumi ini karena dengan adanya benda-benda itulah kita bisa hidup. Benda-benda tersebut merupakan jelmaan Tuhan. Saya rasa dalam konsep Islam pun sama. Semua benda ciptaan Tuhan wajib kita jaga sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.
Dalam kehidupan orang Jepang, Kami atau Tuhan bisa berarti empat hal yaitu:
  1. Atas, Leluhur. Orang Jepang sangat menghormati leluhur dan peninggalannya.
  2. Erai hito (Orang hebat). Siapapun yang menjadi orang hebat dianggap kamisama. Misalnya Matsushita pemilik panasonic, dijuluki keiei no kamisama (dewa pengusaha)
  3. Shizen (alam). Apa yang ada di alam ini dianggap dewa, oleh karena itu orang Jepang sangat menghormati dan menjaga alam.
  4. Daishizen, kalau dilihat dalam terjemahan bahasa Inggris artinya mother nature. Susah untuk diungkapkan makna dari daishizen ini, tapi menurut penjelasan dari kepala sekolah Seifu daishizen ini perasaan seperti halnya kita berada dalam kandungan ibu kita.
 
Mencoba masakan kantin universitas Otemon
(kantinnya sangat bersih, mewah, dan masakannya enak lho!)

Setelah kuliah kami makan siang di kantin kampus lalu diajak berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa asing di sana. Setelah itu kami berkeliling melihat-lihat berbagai fasilitas di otemon dan melihat video performance mahasiswa asing tersebut. Setelah usai nonton video kami dipertemukan dengan kalau tidak salah rektor dan wakil serta pejabat lainnya. Kami menerima jamuan makan malam yang sangat mewah.

       

Setelah kuliah kami makan siang di kantin kampus lalu diajak berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa asing di sana. Setelah itu kami berkeliling melihat-lihat berbagai fasilitas di otemon dan melihat video performance mahasiswa asing tersebut. Setelah usai nonton video kami dipertemukan dengan kalau tidak salah rektor dan wakil serta pejabat lainnya. Kami menerima jamuan makan malam yang sangat mewah.

 


Hari Selasa kegiatan kami adalah kuliah di seifu jouhou koukagakuin, lalu makan siang bersama kepala sekolah dan direktur sekolah. Setelah itu sore harinya kami diantar ke mall untuk berbelanja dan mala harinya makan bersama peserta kursus untuk calon guru dari Seifu Gakuin.
Hari Rabu 29 Januari 2014, kegiatan pagi sampai siang hari diisi dengan kuliah dan sore harinya wisata belanja ke Namba. Sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di Osaka. Selain kuliah kami juga diperbolehkan melihat-lihat kegiatan perkuliahan lainnya di Seifu. Kadang kami berdialog juga dengan para siswanya. 
Toko Hyakkin (100 en shop) yang jadi incaran untuk beli oleh-oleh

Kamis 30 Januari kegiatannya pagi sampai siang hari diisi dengan kuliah lalu upacara penutupan dan penyerahan sertifikat. 
 
Foto bersama setelah upacara penutupan yang diwarnai tangisan karena harus berpisah dengan orang-orang yang sangat baik

Sore harinya kami berkunjung ke Universitas Hagoromo. Menurut informasi universitas ini sangat memperhatikan para mahasiswanya dari sebelum masuk hingga setelah keluar. Saya bisa merekomendasikan universitas ini karena saya pikir sangat aman bagi mahasiswa asing. 
Bersama rektor universitas Hagoromo
Sebelum mengunjungi niversitas Hagoromo kami mampir makan siang

Setelah melihat-lihat berbagai fasilitas bahkan mencoba melakukan siaran langsung direkam  distudio televisi milik jurusan penyiaran universitas ini dan berdialog dengan rektornya malamnya kami mendapat jamuan makan malam yang benar-benar mewakili masakan Jepang yaitu shabushabu. Direstoran ini juga kami bisa mencicipi ikan Fugu mentah. Konon katanya hanya seorang koki yang bersertifikat saja yang boleh menyajikan makanan berbahan ikan Fugu. Hal ini dikarenakan ikan Fugu mengandung racun yang berbahaya. 
Dalam perjalanan menuju universitas Hagoromo kami mampir ke Nintokuryo. Sebuah tempat berupa kuburan besar berbentuk lubang kunci. Kuburan paling besar berukuran 486 m x 249 m. Untuk lebih jelasnya silakan baca http://www.city.sakai.lg.jp/kanko/hakubutsukan/kofun.html atau http://sekilas-info.com/makam-berbentuk-lubang-kunci-nintoku-ryo-tumulus/
Di belakang kami merupakan daerah kuburan terbesar yang ada di Nintokuryo
Hari terakhir kami berada di Jepang yaitu saatnya kembali ke tanah air. Dalam perjalanan menuju ke bandara Kansai kami mampir ke SMP/SMA Seifu Nankai Gakuin. Di sini kami disambut hangat seperti di tempat-tempat lainnya. Para siswa pun tidak ragu untuk berinteraksi dengan orang asing seperti kami.

Foto bersama siswa SMA Seifu Nankai Gakuin
Kesan saya setelah mengikuti kegiatan ini adalah bahwa orang Osaka sangat welcome dengan orang asing terbukti dengan keramahan mereka. Kemudian, pihak I-Seifu, Otemon University, Seifu gakuin, Hagoromo university dan lain-lain, tempat yang kami kunjungi sangat mempersiapkan segala sesuatnya untuk menyambut kedatangan kami. Kami sangat dimudahkan dalam segalanya karena service mereka sangat baik terhadap tamu. Bahkan kepala sekolah I-Seifu sangat rendah hati dan mau bercapek ria mengantar kami ke tempat-tempat yang sudah dijadwalkan dengan menyetir sendiri mobilnya. Ini yang saya salut. Menurut saya hal ini patut kita contoh.
Bagi yang ingin melanjutkan S2 di Jepang dengan biaya sendiri bisa saya rekomendasikan untuk masuk I-Seifu Jouhou Koukagakuin untuk memperdalam kemampuan bahasa Jepang. Jangan khawatir karena pihak sekolah ini akan membantu kita mencari tempat arubaito dengan honor perjam antara 850-1050 yen perhari.
Bagi siswa SMA sederajat juga bisa belajar bahasa Jepang di sekolah ini sebagai persiapan masuk S1 di Jepang dengan biaya sendiri. Atau bisa juga kuliah di sekolah ini, bagi yang punya minat terhadap ilmu pemograman, desain grafis, dan ilmu teknik informatika dll.
Untuk bisa masuk ke sekolah ini saya bisa bantu. Silakan kontak 081326732654 atau fb Ai Sumirah Setiawati.

Sekian dulu oleh-oleh cerita (omiyagebanashi) nya....

Tuesday, 28 January 2014

Tradisi Membungkuk (Ojigi) dan Artinya dalam Budaya Jepang

Tradisi Membungkuk (Ojigi) dan Artinya dalam Budaya Jepang
Jika kalian bepergian ke Jepang, mengetahui bagaimana caranya untuk membungkuk dan menyapa di Jepang akan dapat membantu kalian. Membungkuk (ojigi) adalah kebiasaan yang penting di Jepang. Orang sering menyapa satu sama lain dengan membungkuk, bukan berjabat tangan, dan orang-orang umumnya memiliki percakapan kecil setelah atau sebelum mereka membungkuk

gambar ilustrasi ojigi

Kebiasaan membungkuk terus menerus dilakukan di Jepang. Perlu untuk diketahui bahwa cara membungkuk pria dan wanita itu berbeda. Biasanya pria akan meletakan kedua tangannya disamping paha mereka ketika membungkuk, sedangkan wanita akan menaruh tangan mereka di atas paha mereka.
posisi ojigi untuk wanita

posisi ojigi untuk laki-laki


Pengertian dari membungkuk benar-benar dipengaruhi oleh situasi, kedalaman membungkuk, dan lama waktu kalian membungkuk. Membungkuk di Jepang menunjukkan rasa hormat kepada orang atau sesuatu benda yang kalian beri bungkukkan. (maaf rada aneh ya bahasanya)
 

 Presiden Amerika, Obama sedang memberi salam kepada Kaisar Jepang
Tingkat sosial di Jepang sangatlah penting. Jika kalian adalah seorang yang memiliki reputasi atau kelas yang lebih tinggi dari orang lain, kalian akan melihat mereka akan berbicara lebih sopan kepada kalian, membungkuk lebih bungkuk, dan mungkin saja memesan makanan yang sama dengan yang kamu pesan di restoran.

Jenis-jenis Cara Membungkuk

Jika dibagi-bagi berdasarkan derajat kemiringan nya, maka ada 4 macam cara membungkuk, yaitu: 

ilustrasi cara membungkuk

ilustrasi cara membungkuk

1. Anggukan kepala 5 derajat. 
Jenis bungkukan ini sebenarnya hanya berupa anggukan kecil kepala kalian. Pastikan bahwa kepala kalian posisi nya lurus ke depan. Anggukan ini biasanya digunakan kepada teman baik kalian. Jenis bungkukan ini lah yang paling casual atau sederhana dibandingkan yang lainnya.
Ada situasi lainnya di mana jenis bungkukan ini bisa digunakan. Misalkan jika kalian adalah seorang dengan status yang lebih tinggi, kalian dapat membalas bungkukan orang lain yang lebih rendah dari status kalian dengan menganggukan kepala.
Membungkuk artinya adalah untuk menghormati diri kalian sendiri, jadi jika kalian adalah seseorang dari kelas yang lebih tinggi, kalian tidak perlu untuk menghormati diri kalian sendiri terlalu banyak. Tetapi dengan membungkuk sedikit saja, setidaknya kalian mengakui orang lain tersebut. 
Memberi salam dengan anggukan kepala
2. Membungkuk 15 derajat, Eshaku (会釈)
Biasanya dilakukan untuk menyapa orang secara sepintas. Misalnya jika kalian sedang terburu-buru mau pergi kerja dan dijalan kalian bertemu dengan teman kalian atau bertemu teman kalian ketika sedang jalan-jalan. Ingat sangatlah tidak sopan jika tidak membalas orang lain yang membungkuk kepada kalian.
Eshaku
3. Membungkuk 30 derajat, Keirei (敬礼) 
Ini adalah derajat bungkukan yang paling banyak dilakukan untuk menyapa pelanggan atau berterimakasih pada seseorang. Tipe bungkukan ini paling banyak dilihat di dunia bisnis di Jepang dan tipe ini tidak digunakan untuk acara-acara formal. Tipe ini juga bisa digunakan untuk mengundang teman masuk ke rumah kalian. 
Keirei
Keirei
4. Membungkuk 45 derajat, Saikeirei (最敬礼) 
Tipe ini merupakan tipe yang paling formal. Biasanya digunakan untuk menandakan rasa syukur yang paling mendalam, salam hormat, permintaan maaf resmi, meminta bantuan, dan lain sebagainya.
Saikeirei
Saikeirei
5. Membungkuk hingga kepala menyentuh lantai (Berlutut)  
Tipe yang satu ini jarang sekali digunakan. Tipe ini biasa juga disebut zarei (座礼), ojigi yang dilakukan sambil duduk. Biasanya digunakan oleh acara-acara keagamaan tertentu atau acara-acara bela diri. Atau juga digunakan untuk menujukan permintaan maaf yang sangat sangat mendalam karena dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Sedang berlutut dalam upacara agama
 Sedang berlutut dalam upacara agama
Sedang berlutut dalam upacara agama
 Sedang berlutut dalam upacara agama
Seorang anggota parlemen Jepang yang sedang berlutut didepan rekan-rekannya
 Seorang anggota parlemen Jepang yang sedang berlutut didepan rekan-rekannya
Ada baiknya juga jika kalian mempelajari cara mengucapkan salam dalam bahasa Jepang. Sebuah percakapan/ sapaan biasanya dimulai dengan "konichi wa" atau "hello". Di malam hari kalian bisa menggunakan "konban wa" yang berarti selamat malam, dan di pagi hari menggunakan "Ohayo Gozaimasu" atau cukup hanya "Ohayo" jika kalian berbicara kepada seseorang yang lebih muda.

Jika kalian sedang memiliki percakapan yang tidak formal (misalnya dengan teman), kalian bisa menambahkan percakapan kalian dengan pertanyaan seperti ""Ogenki desu ka? yang artinya bagaimana kesehatan Anda? Jika ada seseorang yang bertanya hal tersebut kepada kalian dan kalian sedang sehat maka kalian dapat menjawabnya dengan "Ii desu yo, arigato." Atau jika kesehatan kalian buruk, kalian dapat menjawabnya dengan "Demo yo".

Kebiasan Unik Dalam Membungkuk

Orang Jepang juga mempunyai kebiasaan unik dalam tradisi membungkuk ini karena tradisi Ojigi ini sudah mendarah daging di dalam diri orang Jepang.

1. Membungkuk ketika sedang telepon
Meski pun tidak ada yang melihat, tetap saja beberapa orang di Jepang membungkuk untuk menghormati lawan bicara mereka di telepon.

2. Pegawai di toko membungkuk kepada pengunjung toko
Sangat natural sekali jika kita membalas orang yang membungkuk kepada kita. Setiap kalian masuk ke dalam toko, biasanya penjaga toko akan membungkuk kepada kalian. Untuk kasus ini, kalian tidak perlu untuk berhenti dan membalas mereka dengan bungkukkan juga karena mereka memang dibayar untuk melakukan hal itu.
Pegawai toko sedang memberikan salam
 3. Membungkuk kepada kereta api.
Hal ini kerap dilakukan orang Jepang ketika kereta api pergi pergi meninggalkan stasiun.  Mereka akan terus membungkuk hingga kereta api benar-benar pergi meninggalkan stasiun. Kebiasaan ini memang jarang dilakukan oleh semua orang Jepang. Selain kereta api, kendaraan yang lain adalah mobil atau pun eskalator.
Pegawai stasiun kereta api sedang memberikan salam
Petugas penjaga lift sedang memberikan salam

4. Membungkuk lagi dan lagi
Sering kali ketika orang Jepang saling memberi salam dengan membungkuk, mereka akan memulainya dengan bungkukkan yang paling dalam kemudian disusul dengan bungkukkan yang rendah hingga yang terkecil. Mereka melakukan ini karena mereka melihat orang lain di depannya membungkuk juga, jadi dia pikir dia harus membungkuk lagi untuk membalas orang tersebut. Kemudian orang yang di depannya tadi juga berpikiran sama. Sehingga mereka berdua terus membungkuk lagi dan lagi. 

Nah , jika kalian bingung mau membungkuk dengan cara apa, maka disarankan kalian membungkuk dengan kemiringan 30 derajat. Orang Jepang tidak akan memaksa para pendatang atau orang asing di Jepang untuk membungkuk dengan sempurna. Mereka sudah akan menghormati kalian jika kalian membungkuk kepada mereka dengan tenang dan dengan penuh rasa hormat.