Showing posts with label Kebudayaan Jepang. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan Jepang. Show all posts

Monday, 15 October 2018

Sherafina Mewakili Prodi PBJ dalam Program Beasiswa ke Jepang bagi Pelajar Islam

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang



Halo sahabat PBJ.
Kali ini kita akan bergabi pengalaman dari Sherafina mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES yang lolos seleksi beasiswa  IFSEE bagi pelajar Islam untuk mengenal Islam di Jepang.
Selamat menyimak


Alhamdulilah, pada September bulan lalu tepatnya pada tanggal 17-21 saya, Sherafina Juniva Nareswari mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES,  mendapatkan kesempatan mengunjungi Tokyo, Jepang sebagai salah satu delegasi program beasiswa bagi pelajar islam untuk belajar mengenai islam dari suatu lembaga swasta yaitu IFSEE setelah mengikuti serangkaian seleksi yang ada. Informasi tersebut saya dapat dari media sosial yaitu instagram.

Sunday, 26 March 2017

Kuburan Rayap: Fenomena Menarik dari Koyasan

Ai Sumirah Setiawati



Jika Anda pergi ke Jepang, terutama daerah Osaka, tidak ada ruginya Anda pergi ke daerah dataran tinggi yang bernama Koyasan. Koyasan (gunung Koya) termasuk ke dalam wilayah Wakayama yang menjadi pusat keagamaan Budha sejak 1200 tahun yang lalu.
Di daerah ini Anda akan menjumpai kuil Budha yang dibangun tahun 816 yang lalu. Selain kuil, di Koyasan ada suatu daerah bernama Okunoin yang merupakan daerah pekuburan kuno sepanjang 2 km di mana di sana kuburan Oda Nobunaga dan tokoh-tokoh sejarah tua Jepang lainnya berada.
Oda Nobunaga Bosho (kuburan)

Di Okunoin terdapat sekitar 200 ribu kuburan yang terletak di antara pohon-pohon besar dan menjulang tinggi. Anda bisa menyusuri pekuburan mulai dari pintu masuknya yaitu jembatan Ichinohashi, dari situ Anda bisa menyusuri rute ziarah dan di dalamnya Anda akan menemukan jembatan Naka no Hashi dan Gobyoonobashi. Mulai dari Gobyoonobashi Anda tidak diperkenankan mengambil gambar apapun yang ada di wilayah tersebut. 
Setelah rute pekburan kuno habis Anda akan menemui daerah pekuburan modern. Di situ ada berbagai macam komplek kuburan keluarga perusahaan besar sepertu Yakult, UCC, Sharp dan lain-lain.
Yang paling menarik di antara kuburan modern tersebut adalah kuburan shiro ari (rayap). Meskipun namanya kuburan rayap, bukan berarti rayap mati yang dikubur di situ. Menurut keterangan teman orang Jepang, kuburan rayap dibangun oleh perusahaan pembasmi serangga. Kuburan tersebut dibangun sebagai ungkapan rasa bersalah dari pihak perusahaan tersebut.

"Rayap. Tidur dengan tenang"
Di atas pegunungan Koya Anda bisa menikmati berbagai wisata religi terutama Budha karena di sana banyak terdapat kuil yang sudah tua. Anda bisa menginap di dalam kuil (shukubo), di sana Anda bisa menikmati hidangan vegetarian (shojin ryori) yang sangat enak dan pagi hari jam 6 Anda akan diajak mengikuti ritual ibadah Budha.
Untuk pergi ke sana Anda bisa memanfaatkan 2 day pass seharga 3.710 yen jika berangkat dari bandara Kansai. Dengan tiket reguler Anda hanya bisa naik kereta Nankai yang biasa (bukan rapid) jalur Koya. Tetapi tiket tersebut berlaku untuk pulang pergi semua kereta yang Anda naiki mulai dari bandara hingga ke stasiun Koya, cable car yang mengantar Anda ke puncak gunung Koya, dan bis yang mengantarkan Anda ke berbagai titik wisata di sana. Dari stasiun Koya Anda akan naik gunung terebut dengan menggunakan cable car miring yang mengasikkan. Selain itu, Anda bisa mendapatkan diskon pembelian suvenir di toko-toko yang tercantum di tiket.
Momiji di Koyasan

 
Cable car


Pemandangan dari Koyasan (Lantai 2 stasiun Koya)
Memutar kuil (ajaklah beberapa teman karena sangat berat)



Wednesday, 11 February 2015

BANGGA BERJAS KUNING

Dany Buyung Yudha Prasetya

Memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia


Brrr..dingin banget”, itulah kalimat pertama yang dikatakan teman-teman rombongan program Jenesys Indonesia ketika keluar dari bandara Narita. Disambut suhu udara yang mencapai 3 derajat celcius kami menuju kota Chiba dengan menggunakan bus yang telah disediakan panitia JICE (Japan International Cooperation center).
Sesampainya di Chiba kami langsung mengikuti kegiatan orientasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kedubes Jepang, Kedubes Indonesia dan Presiden Direktur JICE.  Keesokan harinya dilanjutkan dengan jalan-jalan di Asakusa Nakamise (shoping street), dan dilanjutkan dengan kelas Bahasa Jepang di kantor JICE selama 5 jam.
Ketika jam bebas, saya mencoba keliling kota Tokyo dengan menggunakan kereta. Walaupun sudah membawa rute peta stasiun, tetapi akhirnya tetap bingung juga. Sistim transportasi di Jepang benar-benar rapi, dengan tersedianya informasi di stasiun maupun halte bus yang dapat memudahkan pengguna transportasi untuk menggunakanya. Serta petugas yang siap membantu ketika kita membutuhkan bantuan, dan tersedianya fasilitas khusus untuk orang yang berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda.
Tak terlihat sampah yang berserakan di jalan. Macet dan bunyi klakson kendaraan bermotor pun hampir tidak ada. Tak sedikit orang yang berlalu lintas menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat di sepanjang jalan terdapat jalan yang bergerigi, dengan bentuk bulat maupun memanjang dan berwarna merah maupun kuning, untuk apakah kegunaannya? Ketika melihat seseorang tunanetra yang berjalan menggunakan tongkat, saya baru sadar ternyata  tanda jalan itu disediakan untuk penyandang tunanetra yang bisa menuntunnya hingga ketempat yang dituju.
Hari ketiga rombongan kami menuju prefektur Yamanashi, tepatnya di kota Kofu. Kota Kofu adalah kota yang menjadi pusat pemerintahan salah satu Samurai legendaris Jepang, yaitu Takeda Shingen. Disana kami mengunjungi universitas Yamanashi Gakuin dan SMA Kofu Daiichi dan tempat pembudidayaan strawberry. Disana kami diajarkan bagaimana cara membudidayakan strawberry dan sekaligus memetik langsung strawberry dari pohonnya. Wow, strawberrynya berbeda dengan jenis strawberry yang pernah saya makan, besar sekali.
Ketika di Universitas Yamanashi Gakuin kebetulan saya ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengucapkan kata sambutan. Yang sangat berkesan bagi saya adalah dapat berbagi pengetahuan tentang beladiri Jepang kepada Mahasiswa club Judo universitas Yamanashi Gakuin. Ketika di SMA Kofu Daiichi pun saya mendapatkan kesempatan ditunjuk sebagai MC di acara ramah tamah sekaligus pengenalan budaya Indonesia selama 3 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan dengan pengenalan ekstra kurikuler sekolah meliputi menulis kaligrafi (Shodo), Upacara Minum teh (Shado) dan pertunjukan acapela dari Siswa Kofu Daiichi. 

Bersama host family

Setelah itu kami dipertemukan dengan keluarga homestay masing masing, saya sempat shock karena tidak ada anak perempuan seumuran di keluarga homestay saya hahaha. Selama di rumah keluarga homestay, kami saling berdiskusi banyak hal mengenai budaya, sejarah maupun isu-isu agama yang sedang hangat terjadi. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat menambah wawasan saya. Saat-saat perpisahan dengan keluarga homestay pun, saya sempat menangis karena tak kuasa menahan haru untuk berpisah. Kebaikan mereka akan selalu saya kenang, dan juga kenangan bersama salah seorang siswa SMA Kofu Daiichi.

Tuesday, 28 January 2014

Tradisi Membungkuk (Ojigi) dan Artinya dalam Budaya Jepang

Tradisi Membungkuk (Ojigi) dan Artinya dalam Budaya Jepang
Jika kalian bepergian ke Jepang, mengetahui bagaimana caranya untuk membungkuk dan menyapa di Jepang akan dapat membantu kalian. Membungkuk (ojigi) adalah kebiasaan yang penting di Jepang. Orang sering menyapa satu sama lain dengan membungkuk, bukan berjabat tangan, dan orang-orang umumnya memiliki percakapan kecil setelah atau sebelum mereka membungkuk

gambar ilustrasi ojigi

Kebiasaan membungkuk terus menerus dilakukan di Jepang. Perlu untuk diketahui bahwa cara membungkuk pria dan wanita itu berbeda. Biasanya pria akan meletakan kedua tangannya disamping paha mereka ketika membungkuk, sedangkan wanita akan menaruh tangan mereka di atas paha mereka.
posisi ojigi untuk wanita

posisi ojigi untuk laki-laki


Pengertian dari membungkuk benar-benar dipengaruhi oleh situasi, kedalaman membungkuk, dan lama waktu kalian membungkuk. Membungkuk di Jepang menunjukkan rasa hormat kepada orang atau sesuatu benda yang kalian beri bungkukkan. (maaf rada aneh ya bahasanya)
 

 Presiden Amerika, Obama sedang memberi salam kepada Kaisar Jepang
Tingkat sosial di Jepang sangatlah penting. Jika kalian adalah seorang yang memiliki reputasi atau kelas yang lebih tinggi dari orang lain, kalian akan melihat mereka akan berbicara lebih sopan kepada kalian, membungkuk lebih bungkuk, dan mungkin saja memesan makanan yang sama dengan yang kamu pesan di restoran.

Jenis-jenis Cara Membungkuk

Jika dibagi-bagi berdasarkan derajat kemiringan nya, maka ada 4 macam cara membungkuk, yaitu: 

ilustrasi cara membungkuk

ilustrasi cara membungkuk

1. Anggukan kepala 5 derajat. 
Jenis bungkukan ini sebenarnya hanya berupa anggukan kecil kepala kalian. Pastikan bahwa kepala kalian posisi nya lurus ke depan. Anggukan ini biasanya digunakan kepada teman baik kalian. Jenis bungkukan ini lah yang paling casual atau sederhana dibandingkan yang lainnya.
Ada situasi lainnya di mana jenis bungkukan ini bisa digunakan. Misalkan jika kalian adalah seorang dengan status yang lebih tinggi, kalian dapat membalas bungkukan orang lain yang lebih rendah dari status kalian dengan menganggukan kepala.
Membungkuk artinya adalah untuk menghormati diri kalian sendiri, jadi jika kalian adalah seseorang dari kelas yang lebih tinggi, kalian tidak perlu untuk menghormati diri kalian sendiri terlalu banyak. Tetapi dengan membungkuk sedikit saja, setidaknya kalian mengakui orang lain tersebut. 
Memberi salam dengan anggukan kepala
2. Membungkuk 15 derajat, Eshaku (会釈)
Biasanya dilakukan untuk menyapa orang secara sepintas. Misalnya jika kalian sedang terburu-buru mau pergi kerja dan dijalan kalian bertemu dengan teman kalian atau bertemu teman kalian ketika sedang jalan-jalan. Ingat sangatlah tidak sopan jika tidak membalas orang lain yang membungkuk kepada kalian.
Eshaku
3. Membungkuk 30 derajat, Keirei (敬礼) 
Ini adalah derajat bungkukan yang paling banyak dilakukan untuk menyapa pelanggan atau berterimakasih pada seseorang. Tipe bungkukan ini paling banyak dilihat di dunia bisnis di Jepang dan tipe ini tidak digunakan untuk acara-acara formal. Tipe ini juga bisa digunakan untuk mengundang teman masuk ke rumah kalian. 
Keirei
Keirei
4. Membungkuk 45 derajat, Saikeirei (最敬礼) 
Tipe ini merupakan tipe yang paling formal. Biasanya digunakan untuk menandakan rasa syukur yang paling mendalam, salam hormat, permintaan maaf resmi, meminta bantuan, dan lain sebagainya.
Saikeirei
Saikeirei
5. Membungkuk hingga kepala menyentuh lantai (Berlutut)  
Tipe yang satu ini jarang sekali digunakan. Tipe ini biasa juga disebut zarei (座礼), ojigi yang dilakukan sambil duduk. Biasanya digunakan oleh acara-acara keagamaan tertentu atau acara-acara bela diri. Atau juga digunakan untuk menujukan permintaan maaf yang sangat sangat mendalam karena dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Sedang berlutut dalam upacara agama
 Sedang berlutut dalam upacara agama
Sedang berlutut dalam upacara agama
 Sedang berlutut dalam upacara agama
Seorang anggota parlemen Jepang yang sedang berlutut didepan rekan-rekannya
 Seorang anggota parlemen Jepang yang sedang berlutut didepan rekan-rekannya
Ada baiknya juga jika kalian mempelajari cara mengucapkan salam dalam bahasa Jepang. Sebuah percakapan/ sapaan biasanya dimulai dengan "konichi wa" atau "hello". Di malam hari kalian bisa menggunakan "konban wa" yang berarti selamat malam, dan di pagi hari menggunakan "Ohayo Gozaimasu" atau cukup hanya "Ohayo" jika kalian berbicara kepada seseorang yang lebih muda.

Jika kalian sedang memiliki percakapan yang tidak formal (misalnya dengan teman), kalian bisa menambahkan percakapan kalian dengan pertanyaan seperti ""Ogenki desu ka? yang artinya bagaimana kesehatan Anda? Jika ada seseorang yang bertanya hal tersebut kepada kalian dan kalian sedang sehat maka kalian dapat menjawabnya dengan "Ii desu yo, arigato." Atau jika kesehatan kalian buruk, kalian dapat menjawabnya dengan "Demo yo".

Kebiasan Unik Dalam Membungkuk

Orang Jepang juga mempunyai kebiasaan unik dalam tradisi membungkuk ini karena tradisi Ojigi ini sudah mendarah daging di dalam diri orang Jepang.

1. Membungkuk ketika sedang telepon
Meski pun tidak ada yang melihat, tetap saja beberapa orang di Jepang membungkuk untuk menghormati lawan bicara mereka di telepon.

2. Pegawai di toko membungkuk kepada pengunjung toko
Sangat natural sekali jika kita membalas orang yang membungkuk kepada kita. Setiap kalian masuk ke dalam toko, biasanya penjaga toko akan membungkuk kepada kalian. Untuk kasus ini, kalian tidak perlu untuk berhenti dan membalas mereka dengan bungkukkan juga karena mereka memang dibayar untuk melakukan hal itu.
Pegawai toko sedang memberikan salam
 3. Membungkuk kepada kereta api.
Hal ini kerap dilakukan orang Jepang ketika kereta api pergi pergi meninggalkan stasiun.  Mereka akan terus membungkuk hingga kereta api benar-benar pergi meninggalkan stasiun. Kebiasaan ini memang jarang dilakukan oleh semua orang Jepang. Selain kereta api, kendaraan yang lain adalah mobil atau pun eskalator.
Pegawai stasiun kereta api sedang memberikan salam
Petugas penjaga lift sedang memberikan salam

4. Membungkuk lagi dan lagi
Sering kali ketika orang Jepang saling memberi salam dengan membungkuk, mereka akan memulainya dengan bungkukkan yang paling dalam kemudian disusul dengan bungkukkan yang rendah hingga yang terkecil. Mereka melakukan ini karena mereka melihat orang lain di depannya membungkuk juga, jadi dia pikir dia harus membungkuk lagi untuk membalas orang tersebut. Kemudian orang yang di depannya tadi juga berpikiran sama. Sehingga mereka berdua terus membungkuk lagi dan lagi. 

Nah , jika kalian bingung mau membungkuk dengan cara apa, maka disarankan kalian membungkuk dengan kemiringan 30 derajat. Orang Jepang tidak akan memaksa para pendatang atau orang asing di Jepang untuk membungkuk dengan sempurna. Mereka sudah akan menghormati kalian jika kalian membungkuk kepada mereka dengan tenang dan dengan penuh rasa hormat.

Monday, 16 September 2013

10 Hal yang Dirahasiakan Gadis Jepang Terhadap Pasangannya

彼氏に知られたくないことトップ10


Sebuah acara TV di Jepang, Rank Kingdom berhasil menginterview 250 gadis di Shibuya. Mereka menginterview tentang hal apa aja sih yang tidak ingin pasangan/ pacar mereka ketahui dari para gadis ini. Ini dia 10 hasil tertinggi:

10. Tempat kelahiran
9. Tingkat kebodohan (misalnya, pernah gagal ikut tes)
8. Kebiasaan tidur (misalnya, mendengkur atau ngacai)
7. Pacar sebelumnya
6. Tinggi badan sebenarnya
5. Tampilan wajah tanpa make up
4. Ukuran pinggang sebenarnya
3. Diari
2. Isi handphone dan e-mail
1. Ukuran tinggi badan sebenarnya

Saya tau jika banyak orang yang malu tentang kebiasaan buruknya tapi ada beberapa poin di atas yang saya tidak mengerti kenapa mereka harus sembunyikan.

#10, apa salahnya mereka kita memberitau tempat kelahirannya? Lagian, apa pacar mereka peduli tentang hal itu?
#7, kenapa harus malu memberitahu tentang x-boyfriend mereka? Apa jangan-jangan mereka pernah melakukan sesuatu yang melakukan? Atau pacar sebelumnya tidak terlalu menarik?
#6, ya saya tau kebanyakan cewe Jepang itu pendek. Tapi bukannya itu salah satu alasan kenapa cewe Jepang itu lucu?
#4, takut dibilang gemuk?

Ya mungkin saya tidak tau jika ada kebudayaan disana yang membuat mereka menyembunyikan info-info tersebut.

Tuesday, 6 August 2013

Legenda Dewa Dewi Jepang





Penciptaan dunia
Dunia berawal di Takamanohara, di sana lahir berbagai kami seperti Kotoamatsukami dan Kaminoyonanayo. Kami yang lahir paling akhir adalah dua bersaudara Izanagi (Izanaki) dan Izanami

Izanagi dan Izanami turun di Ashihara no Nakatsu Kuni, menikah, dan berturut-turut melahirkan pulau-pulau yang membentuk kepulauan Jepang yang disebut Yashima. Setelah melahirkan berbagai kami, Izanami tewas akibat luka bakar saat melahirkan Kagutsuchi (dewa api). Setelah membunuh Kagutsuchi, Izanagi pergi ke negeri Yomi
untuk mencari dan menyelamatkan Izanami. Setelah berada di negeri Yomi,
wujud Izanami berubah menjadi menakutkan. Izanagi yang melihat sosok
Izanami menjadi lari ketakutan.
Izanagi menjalani misogi (mandi) karena tidak suka dengan kekotoran (kegare) yang terbawa dari Yomi. Ketika melakukan misogi, Izanagi melahirkan pula sejumlah kami, saat mencuci mata kiri terlahir Amaterasu (dewa matahari, penguasa Takamanohara), saat mencuci mata kanan terlahir Tsukuyomi (dewa bulan, penguasa malam), dan saat mencuci hidung lahir Susanoo (penguasa samudra). Ketiga kami ini disebut Mihashira no Uzu no Miko, dan menerima perintah dari Izanagi untuk menguasai dunia.


Susanoo ingin pergi ke tempat Izanami di Ne no Kuni
dan berteriak-teriak menangis hingga membuat kerusakan luar biasa di
langit dan bumi. Susanoo akhirnya pergi naik ke Takamanohara yang
diperintah Amaterasu. Kedatangan Susanoo salah dimengerti, Amaterasu
menyangka Susanoo datang untuk merebut Takamanohara. Susanoo disambut
Amaterasu dengan busur dan anak panah. Agar kecurigaan Amaterasu terhapus, dari setiap benda yang menempel di badan Susanoo lahir kami
yang jenis kelaminnya membuktikan kemurnian tubuh Susanoo. Amaterasu
percaya dan mengizinkan Susanoo berada di Takamanohara. Di sana Susanoo
membuat keonaran lagi sampai Amaterasu bersembunyi di dalam gua Ama no Iwato. Amaterasu adalah dewa matahari, sehingga matahari tidak terbit selama Amaterasu bersembunyi. Para kami
di Takamanohara menjadi susah hati. Amaterasu akhirnya keluar dari
dalam gua setelah dikelabui. Susanoo yang sering membuat susah akhirnya
diusir ke dunia bawah.

Susanno turun ke negeri Izumo. Setelah berhasil membunuh monster Yamata no Orochi yang suka merusak, Susanoo menikah dengan putri Kunitsukami. Cucu keturunan Susanoo bernama Ookuninushi menikah dengan putri Susanoo dan membangun negeri Sukunahikona dan Ashihara no Nakatsukuni. Menurut penjelasan nama tempat yang ada di buku Fudoki negeri Izumo, lokasi pembasmian Yamata no Orochi ada di distrik Ou (sekarang kota Yasugi, Prefektur Shimane), tapi bukan Susanoo yang menjadi pahlawan, melainkan Oonamuchi (Ookuninushi).




Sementara itu, Amaterasu dan para kami (Amatsukami) di Takamanohara menyatakan negeri Ashihara no Nakatsu no Kuni (Izumo) harus diperintah Amatsukami atau cucu keturunan Amaterasu. Sejumlah kami dikirim ke Izumo untuk mewujudkan keinginan ini. Setelah dua anak Ookuninushi, Kotoshironushi dan Takeminakata
menitis ke Amatsukami, Ookuninushi berjanji untuk memberikan negeri
Izumo dengan syarat dibangunkan sebuah istana. Istana ini nantinya
disebut Izumo Taisha.
Ninigi yang merupakan cucu Amaterasu menerima Ashihara no Nakatsu. Ninigi turun ke negeri Hyūga dan kemudian menikahi Putri Konohanasakuya.

Ninigi memiliki dua putera, Hoori dan Hoderi.
Mata pancing milik Hoderi dihilangkan Hoori sehingga kedua bersaudara
ini bertengkar. Hoori lalu pergi ke istana Kaijin (dewa laut) dan
menemukan mata pancing Hoderi di sana. Sewaktu berada di sana, Hoori
menikah dengan putri dewa laut. Dari pernikahan ini lahir anak
laki-laki bernama Ugaya Fukiaezu. Putra keturunan Ugaya Fukiaezu yang
bernama Kamuyamato Iwarehito nantinya menjadi Kaisar Jimmu.



Kamuyamato Iwarehito dan kakak-kakaknya berkeinginan menguasai Yamato.
Penduduk yang sejak dulu berdiam wilayah Yamato melawan dengan sekuat
tenaga, dan pertempuran sengit terjadi. Kesaktian Kamuyamato Iwarehiko
yang masih keturunan dewa bukan tandingan bagi penduduk Yamato. Pada
akhirnya, Kamuyamato Iwarehiko naik tahta sebagai kaisar di kaki gunung
Unebikashihara no Miya. Kamuyamato Iwarehiko nantinya dikenal sebagai kaisar pertama Jepang Kaisar Jimmu.
Setelah Kaisar Jimmu wafat, pemberontakan dilancarkan putra Kaisar Jimmu yang bernama Tagishimimi. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan Kamununakawamimi yang kemudian naik tahta sebagai Kaisar Suizei.

Delapan kaisar, termasuk kaisar kedua Kaisar Suizei hingga kaisar ke-9 Kaisar Kaika disebut sebagai Kesshi Hachi-dai. Kedelapan nama kaisar tertulis dalam Kojiki dan Nihon-shoki, tapi tidak dijelaskan peran dan jasa-jasanya.

Shi Luckman
http://www.hilman.web.id/

 

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang

Monday, 22 July 2013

Sadou - Upacara Minum Teh

Saya cukup sering makan di restoran Jepang dan pastinya memesan teh/ ocha (karena murah -_-""). Ternyata di Jepang terdapat upacara khusus minum teh yang sudah terkenal kepenjuru dunia. Upacara ini dinamakan cha-no-yu/ chado/ sadou.



Ritual tradisional ini terpengaruh oleh agama Buda Zen di Jepang. Ada yang bilang, acara ini sudah ada sejak 400 tahun yang lalu yaitu ketika jaman Edo, dimana pada masa itu, sadou ini hanya dilakukan oleh bangsawan-bangsawan atau samurai-samurai untuk menjamu tamu. Kebiasaan ini terus menurun hingga sekarangpun tetap dilakukan oleh semua lapisan masyarakat Jepang.

Cha-no-yu (茶の湯) artinya air hangat untuk teh, biasanya merujuk pada sebuah ritual atau seremoni. Sedangkan chado/ sadou (茶道, the way of tea), merujuk pada pembelajaran dari makna sebuah upacara teh. Untuk melakukan  upacara ini tidaklah mudah, karena memilki lebih kurang 300 tata cara (0_0), oleh karenanya, orang yang mengikuti upacara ini harus seorang yang ahli.


Jika ingin menjadi partisipan upacara Sadou ini maka harus familiar dengan hal-hal berikut ini:
  • Membuat teh
  • Mengenal tipe-tipe teh
  • Kimono
  • Kaligrafi
  • Dekorasi bunga
  • Keramik
  • Kesenian tradisional lainnya
Nah, dikarenakan begitu mumetnya, jadi dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari upaca ini, bahkan ada yang mempelajarinya seumur hidup. Bahkan jika kalian hanya ingin berpartisipasi sebagai tamu pada upacara Sadou,  maka kalian perlu tahu beberapa pengetahuan tentang upacara ini, termasuk cara duduk, gestur tubuh, cara mengambil dan meminum teh dan manisan. Manisan? Pada upacara ini juga disediakan makanan manis untuk menutupi rasa pahit dari teh. Tapi kalian tidak boleh minta tambah manisannya, hanya boleh tambah tehnya.

Sejarah

Yang perlu kalian ketahui ialah teh bukanlah minuman asli negara Jepang. Minuman teh mulai diperkenalkan di Jepang pada abad ke 9 oleh seorang biksu Budha dari Cina. Dari situlah, teh mulai dikenal oleh warga Jepang dan mulai menjadi kebudayaan Jepang.


Pada mulanya di Cina kebiasaan minum teh pada awalnya hanya sebagai pengobatan, dan seiring waktu maka teh juga dinikmati sebagai minuman biasa yang menyenangkan. Pada awal abad ke 9, seorang penulis Cina, Lu Yu menulis suatu catatan mengenai budaya minum teh dan langkah-langkah persiapan minum teh. Kehidupan Lu Yu ini sangat terpengaruh oleh agama Budha, terutama dari sekolah yang kemudian dikenal di Jepang sebagai Zen. Ide-idenya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan upacara minum teh di Jepang ini.

Patung Lu Yu

Pada abad ke 12, jenis baru dari teh, yaitu matcha, mulai diperkenalkan. Teh yang terbuat dari bubuk teh hijau ini pertama kali digunakan dalam ritual keagamaan di biara Budha. Pada abad ke 12, samurai-samurai mulai meminum teh ini, dan dasar-dasar upaca minum teh mulai dibuat.

Pada abad ke 16, tradisi minum teh ini telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat di Jepang. Sen no Rikyu adalah seorang figur tokoh sejarah dalam upacara minum teh yang paling terkenal dan dihormati di Jepang. Dia memperkenalkan konsep ichi-go ichi-e(一期一会, one time, one meeting), sebuah keyakinan bahwa sebuah pertemuan harus dihargai karena pertemuan tersebut belum tentu dapat terulang kembali. Ajarannya menyebabkan perkembangan bentuk-bentuk baru dalam arsitektur, perkebunan, karya seni dan tentu saja dalam upacara Sadou ini. Prinsip-prinsip yang diperkenalkannya, yaitu kehormatan, ketenangan, dan kemurnian masih menjadi pusat dalam upacara minum teh hingga sekarang ini.


Sen no Rikyu

Upacara Teh


Di Jepang terdapat dua sekolah utama sebagai tempat mempelajari upacara Sadou ini, yaitu Omote Senke dan Urasenke. Dua sekolah ini telah berkembang pesat dan telah menentukan ritual upacara mereka sendiri. Terdapat juga sekolah lainnya, tetapi mereka tidak terkenal. Saat ini, sekolah Urasenke adalah yang paling aktif dan paling banyak pengikutnya. Setiap sekolah memiliki sub-sekolah dan masing-masing sekolah memiliki variasi-variasi dalam mempersiapkan acara minum teh ini dan juga banyak jenis peralatan teh yang digunakan. (tergantung musimnya)

Urasenke

Semua sekolah dan semua variasi-variasinya bagaimanapun memiliki kesamaan. Tuan rumah, baik laiki-laki ataupun perempuan akan mengenakan kimono, sedangkan tamu mungkin menggunakan kimono atau pakaian formal. Jika teh yang akan disajikan letaknya terpisah dari rumah (karena ada yang menyajikannya di rumah teh), maka para tamu akan diminta untuk menunggu di semacam pondok di taman, dan kemudian jika sudah siap makan akan dipanggil oleh tuan rumah. Ketika dipanggil, para tamu akan "menyucikan" diri mereka dengan mencuci tangan dan membilas mulut mereka dengan air pada sebuah baskom yang terbuat dari batu. Setelah itu para tamu akan jalan melalui roji (jalan berkebun) menuju ke rumah teh. Para tamu melepas sepatu mereka dan masuk kedalam rumah teh melalui pintu kecil dan menuju ke tokonama (ruangan kecil yang menjoro ke dalam) dimana mereka akan mengagumi hiasan-hiasan yang ditaruh disana dan akhirnya  duduk di atas tatami bergaya seiza. Duduknya harus dalam posisi hormat ya.


Roji

tokonama

tatami seiza

Rumah teh dan kamar teh ini biasanya berukuran kecil. Umumnya menggunakan 4,5 tatami (tikar tenunan dari jerami) untuk menutupi lantai. Ruangan teh terkecil hanya menggunakan 2 tikar saja. Besar kecilnya rumah teh berdasarkan kemampuan keuangan pemiliknya. Rumah teh ini sengaja di desain dengan material sederhana dan bergaya pedesaan Jepang.


Tamu-tamu mungkin ditawari cemilan ringan, yang biasa disebut kaiseki(懐石) atau chakaiseki (茶懐石) disertai dengan sake. Kemudian para tamu akan kembali lagi ke pondok tadi, sambil menunggu dipanggil lagi oleh tuan rumah.

kaiseki

chakeiseki

Jika tidak ada cemilan yang disajikan, maka tuan rumah langsung memberikan manisan atau permen. Manisan-manisan ini kemudian dimakan dengan menggunakan kertas khusus yang disebut kaishi (懐紙), dimana setiap tamu pasti membawanya masing-masing di dalam dompet atau di selipkan di depan kimono.


kaishi

Setiap alat, termasuk mangkuk teh (chawan), pengocok (chasen), dan teh sendok (chashaku), kemudian dibersihkan dengan ritual dihadapan para tamu dengan urutan yang tepat dan dengan gerakan yang telah ditentukan. Ketika ritual pembersihan itu telah selesai, dan peralatan telah ditaruh ditempat yang sesuai, tuan rumah mulai menaruh bubuk teh hijau yang sudah ditakar ke dalam mangkuk, kemudian air panas sesuai dengan takaran dan mulai untuk mengaduknya dengan peralatan tadi.




Dalam upacara ini, jarang terjadi percakapan. Mereka lebih banyak berdiam. Para tamu bersantai dan menikmati suasana tenang yang tercipta dari suara air dan api, aroma dupa dan teh, dan keindahan serta kesederhanaan dari rumah teh dan dekorai musiman yang sesuai.

Mangkuk kemudian disajikan kepada tamu kehormatan (shokyaku, 初客, tamu pertama), baik oleh tuan rumah atau asisten. Mangkuk ini diberikan kepada tamu pertama sambil membungkuk. Kemudian tamu pertama ini membungkuk kepada tamu kedua sebagai tanda hormat pada tuan rumah. Mangkuk tersebut diputar untuk menghindari meminum dari bagian depan mangkuk. Kemudian mencicipi teh (1x teguk), setelah itu membisiskan ungkapan yang telah ditentukan, kemudian meminum lagi teh tersebut 2-3 kali, setelahnya tamu tersebut menyeka bagian pinggir mangkuk itu. Kemudian mangkuk diputar kembali ke posisi awal dan diserahkan pada tamu kedua dengan membungkuk. Proses ini terus dilakukan hingga semua tamu sudah meminum teh dari mangkuk yang sama dan posisi mangkuk kembali ke tuan rumah. Di beberapa upacara, setiap tamu akan meminum teh dari mangkuk masing-masing tetapi urutan minum tehnya sama saja.





Jika teh yang kental (koicha) telah disajikan, tuan rumah kadang-kadang akan menyajikan teh yang kadarnya lebih ringan (usuicha) yang disajikan dengan cara yang sama. Dalam beberapa ritual, hanya teh koicha atau usuicha saja yang disajikan.

koicha

usuicha

Setelah semua tamu mendapatkan teh, tuan rumah akan membersihkan peralatan. Para tamu kehormatan dapat meminta tuan rumah agar dia dapat memeriksa peralatan-peralatan tersebut, dan setiap tamu dapat mengagumi alat-alat itu. Peralatan tersebut diperlakukan dengan sangat hati-hati dan dengan penuh kehormatan karena peralatan tersebut tak terhingga nilainya (antik, buatan tangan). Para tamu menggunakan kain khusus untuk memegang peralatan tersebut.



Tuan rumah kemudian mengumpulkan peralatan, dan para tamu meninggalkan rumah teh. Tuan rumah membungkuk sebagai ucapan terima kasih dari pintu, dan upacara berakhir. Sebuah upacara minum teh ini dapat belangsung satu hingga lima jam, tergantung dari jenis upacara dan makanan yang disajikan di sana.



Alat Yang Digunakan



Hishaku(centong air)


Okama(gentong air)


Chawan(mangkuk teh)


Chashaku(sendok teh)


Natsume(wadah bubuk teh)


Chasen(pengaduk teh)


Matcha(bubuk teh hijau)

Jenis Upacara

Terdapat dua jenis upacara yang bisa dilakukan, yaitu:

Obon Temae (お盆手前)
Dalam obon temae, tuan rumah menaruh mangkuk teh, kocokan, sendok teh, chakin dan natsume pada sebuah nampan khusus, kemudian peralatan ini ditutup oleh kain fukusa. Teh ringan disajikan di atas nampan sambil duduk berlutut gaya Seiza.

nampan

fukusa


Ryū-rei (立礼)
Dalam jenis upacara ini, teh disajikan di atas meja khusus. Para tamu duduk di meja yang sama, atau di meja yang terpisah. Dalam ryu-rei biasanya ada asisten yang duduk di belakang tuan rumah untuk membantu menarik dan memajukan kursi untuk tuan rumah. Asisten ini juga melayani teh dan manisan/ permen untuk tamu.